this is a story about 3 girls from 3 worlds

Thursday, July 06, 2006

bab 7

BAB 7




Jam setengah sembilan malam. Resty sedang berada di sebuah tempat disko. Tempat diadakannya ulang tahun Vino. Sesaat ia merasa bersalah karena sudah datang kesini tanpa memberi tahu kedua temannya. Tapi sesaat kemudian ia berkata sendiri dalam hatinya, ‘kadang emang harus sedikit berbohong untuk bisa berani’. Ia pun bergabung dengan orang-orang disana.
“Dasar.... udah terlalu kaya apa dia? Ulang tahun aja mesti ditempat beginian.” Kata Resty saat melihat Vino dan teman-temannya sedang duduk di salah satu pojok ruangan sambil tertawa.
Resty pun memutuskan untuk duduk di meja bar. Ia berpikir, mungkin nanti saja ia menghampiri Vino. Sang bartender menaikan alis padanya yang artinya ‘mau minum apa?’
“Eee.......”
“Gue pesen yang biasa.” Kata orang disebelah Resty yang baru saja datang. “Tolong bikinin dia orange juice. Tanpa alkohol, ya.”
Baik banget dia. Batin Resty lalu menoleh pada orang itu.
“Y-yozi?” kata Resty yang tidak mempercayai penglihatannya sendiri.
Yozi tersenyum.
“Kok... bisa disini?” tanya Resty.
“Harusnya aku yang tanya. Ngapain kamu disini?” kata Yozi. “Kalo aku emang suka dateng kesini akhir minggu.”
“Ooooh...itu...sebenernya....”
“Hai Res.....” sapa Vino yang tiba-tiba datang.
“Eh, Vino....”
“Kok gak langsung kemeja sana, sih?”
“Iya... tadi.. gue pikir lo....”
Belum sempat Resty menyelesaikan kata-katanya Vino sudah menggeretnya.
“Tapi, vin...”
“Udaaaaah....ayoooo.... gak ada Manda kok.”
Yozi mengawasi Resty dari kejauhan.


Gia sedang duduk di beranda sambil menatap langit malam. Ia melipat tangannya diatas meja dan menaruh dagunya diatas lipatan tangannya. Tiba-tiba sebuah mangkuk besar mendarat didepan mukanya. Gia mengangkat dagunya dan melihat isi mangkuk itu. Kwetiaw siram yang baunya sangat enak. Didepannya ada Opank yang baru saja duduk dan melahap makanan yang sama dengannya.
“Jangan diplototin aja. Dimakan...” kata Opank. “Dari siang lo belom makan, kan? Apa jangan-jangan dari pagi?”
Gia pun menurut. Lalu memakan kwetiaw itu.
“Sebenernya apa sih yang lo lamunin dari tadi?”
“Ha?” Gia gak connect.
“Gue liat dari tadi sore lo ngelamuuuuun terus.” kata Opank sambil makan. “Lo kesambet, ya?”
Gia diem aja. Ia masih melahap makanannya. Opank pun akhirnya melanjutkan makannya. Tiba-tiba Gia berhenti menyedot kwetiaw-nya. Ia menerawang jauh kearah danau.
“Diseberang sana....gak jauh dari padang ilalang....ada rumah....”
Opank berhenti makan untuk mendengarkan Gia.
“Ada seorang cowok yang sebenernya paling beruntung. Tapi....dia ngerasa hidupnya kurang beruntung.”
“Kok bisa?”
“Dia punya penyakit psikologi...” kata Gia. “Dia selalu ngerasa kalo dirinya kurang, padahal sama sekali enggak.”
“Maksud lo kayak gak pede, gitu?”
Gia mengangguk. “Bisa dibilang begitu.”
“Trus?”
“Tadi siang gue nemuin dia.” Kata Gia. “Sebenernya gue pengeeeen banget nolong dia, tapi.....”
“Tapi dia gak mau?” tebak Opank.
Gia mengangguk lagi.
“Gi...denger, ya... kalo lo emang bermaksud baik sama dia. Pasti bakal dikasih jalan sama Allah.” Kata Opank. “Percaya deh.”
Gia diam saja. Masih menatap jauh ke danau.
“Udah...dimakan tuh.. nanti keburu gak enak. Keburu ngembang.”


Tya menunggu di lobi sendirian. Menunggu Bram. Tapi yang datang malah Rangga, sepupu tertua keduanya.
Tin...tin....
Rangga membunyikan klakson BMW-nya. Lalu perlahan kaca mobilnya terbuka.
“Kok sendirian, Ty? Putra mana?”
“Mas Rangga?” kata Tya. “Pu-Putra...... udaaaah pulang dari tadi.”
“Dasar tuh anak.” Kata Rangga. “Mau bareng gak?”
Tya cepat-cepat menggerakkan tangannya tanda menolak. “Gak usah....”
“Lhoooo... gak usah gimana? Hari ini gak bawa mobil, kan?”
“Iya... ta-tapi...aku mau pulang naik taksi aja.”
“Mana boleh anak perempuan pulang malem-malem sendirian naik taksi? Udah bareng aja. Ayo.”
Tya tidak dapat menolak. “Iya...sebentar.”
Ia pun segera menulis note dikertas kecil kemudian memberikannya pada satpam.
“Pak... tolong kasih ke Bram, ya. Sebentar lagi mungkin orangnya kesini.” Katanya diam-diam lalu masuk mobil Rangga.
“Tadi ngasih apa kesatpam?” tanya Rangga diperjalanan pulang.
“Bukan apa-apa.” Kata Tya berusaha tetap tenang.


Yozi sedang memapah Resty yang sudah teler akibat dicekokin minuman oleh Vino. Namun tiba-tiba Vino menyusul dan memarahi Yozi.
“Heh!! Mau dikemanin temen gue?!!” kata Vino.
“Pulang!”
“Emangnya lo siapa berani-beraninya bawa temen gue?!!”
“Lo gak perlu tau!!” kata Yozi lalu memasukan Resty ke mobil.
Saat Yozi hendak masuk mobil, Vino menghalanginya.
“Sebaiknya lo minggir.” Kata Yozi.
“Sebaiknya lo rasain ini dulu.” Kata Vino lalu memukul Yozi.
Perkelahian pun tak terelakan. Vino memukul, Yozi membalas. Sampai akhirnya Yozi memberikan pukulan terakhir pada Vino. Vino jatuh tersungkur di lantai parkir basement.
“Jangan deketin Resty lagi. Lo berpengaruh buruk!!” kata Yozi lalu meninggalkan Vino.


Gia tertidur di sofa saat sedang memasukkan foto-foto ke notebook-nya.
“Dasar Gia....Gia...” kata Opank lalu menyelimuti Gia dengan selimut yang sengaja ia bawa dari dalam rumahnya. Ia tahu Gia tidak akan pulang kerumah.
Saat itu Opank melihat di notebook-nya Gia ada sebuah foto yang baru masuk dari kameranya Gia. Foto seorang laki-laki. Berwajah muram dan tulang pipinya tirus. Ini pasti orang yang Gia ceritain tadi, pikir Opank.


Tya baru saja turun dari mobilnya Rangga.
“Makasih, ya, Mas.....” kata Tya.
“Cepet tidur, ya. Salam buat tante.”
“Iya....”
Mobil Rangga pun berlalu. Tya mulai berjalan masuk ke rumahnya dan tiba-tiba handphonenya berbunyi.
“Hallo...” jawab Tya.
“Ty...ini Bram.”
Tadi Tya memberikan note pada satpam yang isinya nomor telponnya.
“Bram... lo dimana? Sori, ya... tadi pas nungguin lo tiba-tiba mas Rangga muncul, trus gue disuruh pulang bareng.”
“Iyaaa... gak apa-apa. Tapi lo udah sampe rumah, kan?”
“Udah...baru aja nyampe.”
“Oooooh....” kata Bram. “Eh, besok lo ke rumahnya Opank, gak?”
“Gak tau... kalo Gia kesana, ya... gue kesana.”
“Oh..ok...besok gue ada disana.”
“Oh.....iya....”
“Yaudah, deh....sampe ketemu, ya...”
“Daaaah.....”
“Daaah....”

***

Pagi harinya. Resty terbangun dan terheran-heran melihat dekorasi kamarnya seperti bukan kamarnya. Ia hendak bangun, tapi kepalanya terasa berat. Ia pun mengurut keningnya.
“Pagi...Res...udah bangun?”
Resty berusaha memfokuskan matanya. “Eh, Yozi....” kata Resty. “Ini dimana, sih?”
“Ini di apartemen aku.”
“Apa?”
“Tenang aja... tadi malem aku tidur diluar, kok.” Kata Yozi.
“Iya... tapi kok aku bisa disini?”
“Selamalem kamu dicekokin minuman sama temen kamu itu, trus tadinya aku mau bawa kamu pulang, tapi aku gak tau rumah kamu. Lagian aku gak mungkin bawa kamu pulang dengan keadaan kayak tadi malem. Yaudah aku bawa kesini aja. Tapi tadi malem aku udah telpon Pak direktur kok.”
“Ka-kamu telpon Papa?”
Yozi mengangguk. “Iya... aku bilang aja kamu lagi belajar sastra inggris sama aku.”
“Trus Papa percaya?”
“Kayaknya gitu.”
Tiba-tiba handphone Resty berbunyi.
“Ya, hallo...”
“Dek!! Lo dimana, sih? katanya lo mau kerumah Tya. Tapi kok Papa bilang lo lagi belajar sastra?”
“Aduuuh.... mas Reza. Ceritanya panjang. Nanti kalo udah sampe rumah gue ceritain deh.” kata Resty. “Trus mama gimana?”
“Yaaaa.... untung aja gue lupa bilang ke mama kalo lo ke rumah Tya. Trus si Papa udah duluan bilang kalo lo lagi belajar.”
“Bagus deh.....”
“Bagus deh gimana?!! Lo sebenernya ada dimana, sih? Yang bener lo dimana?”
“Iya...nanti gue ceritain.” Kata Resty lalu mematikan telponnya.
“Siapa?” tanya Yozi.
“Kakak.....” kata Resty. “Kayaknya aku harus pulang sekarang deh.”
“Yaudah... aku anter sekarang...”
“Tapi....ngomong-ngomong muka kak Yozi kenapa?”
“Oh... ini...kemaren kepleset trus jatoh....”


Siang harinya, Tya sedang memberi makan kura-kura kecilnya, Koro. Sambil menonton national geographic tentang ular besar, yaitu Anaconda dan Phyton. Tya memang suka nonton national geographic. Ia lebih suka nontonin gorila manjat pohon, singa makan kijang, atau ular makan buaya sampe perutnya sobek kebelah dua daripada disuruh nonton sinetron.
“Koro...koro...makan yang banyak... biar larinya bisa cepet...”
Tiba-tiba handphonenya bunyi.
“Ya, Res....”
“Ty....ke rumah Opank yuk. Gia ada disana.”
“Kapan?”
“Tiga ribu taun lagi.” kata Resty. “Ya sekarang lah.”
“Oooh... yaudah....lo jemput gue, ya.”
“Sip... nih bentar lagi gue nyampe rumah lo.”
“Bujug!! Gile lo ya...mandi aja belom.”
“Yaudah buruan mandi....”
“Iyaa... tapi gue mau kasih makan si Koro dulu...nanti kalo mati gimana?”
“Iyaa...iyaaa... nanti gue tunggin. Buruan...”


Gia sedang duduk di beranda studio sambil melihat hasil fotonya. Bram dan Opank baru saja datang. Mereka membawa foto hasil photo session di padang ilalang waktu itu lalu duduk bersama Gia.
“Ini yang waktu itu, ya?”
“Iya....” jawab Bram.
“Gimana?” tanya Opank.
“Bagus.” Jawab Gia.
Bram dan Opank pun sibuk memilih-milih foto. Bukannya ikutan bantuin, Gia malah bengong. Diantara badan Opank dan Bram ada celah kecil. Melalui celah kecil itu ia melihat seseorang berdiri di dermaga padang ilalang. Gia mengmbil kamera yang ia letakkan di samping notebook-nya lalu memainkan zoomnya agar ia bisa melihat jelas orang itu. Rivo. Kata Gia dalam hati sambil menurunkan kameranya. Ngapain dia disana sendirian?
Namun tidak lama kemudian ia melihat Rivo terjun kedalam danau.
“A-ADA ORANG TERJUN!!!!” seru Gia panik. Lalu dengan spontan ia langsung terjun ke danau dari beranda studio.
Gia berenang sampai ketempat Rivo terjun. Ia tidak melihat apa-apa. Gia pun menyelam ke bawah danau. Ia memang pernah ikut les berenang dan menyelam waktu liburan musim panas tahun lalu saat ia masih di Jepang, bahkan ia punya sertifikat sebagai penyelam terbaik. Akhirnya ia menemukan Rivo diantara air danau yang keruh. Gia segera menarik Rivo sebelum ia kehabisan nafas. Sambil terus menahan nafas, ia menarik Rivo kepermukaan. Sampai di permukaan Gia menidurkan Rivo di dermaga.
Sambil menangis panik ia menekan perut Rivo seperti yang ia pelajari dari les menyelam.
“Bangun!!.....Rivo bangun....bangun!!!” Gia histeris dengan panik sambil terus menekan perut Rivo. Gia pun akhirnya terpaksa memberi nafas buatan pada Rivo lalu menekan perutnya lagi. Terus begitu sampai akhirnya Rivo bangun dengan terbatuk-batuk sambil mengeluarkan air dari mulutnya. Gia langsung memeluk Rivo sambil terus menangis histeris.


Saat Tya dan Resty datang, Gia sedang tidak ada. Akhirnya mereka berdua bergabung dengan Opank dan Bram yang sedang sibuk dengan foto-foto. Resty membantu Opank mencetak, sedangkan Tya membantu Bram menempelkan foto-foto itu di papan hitam ukuran 65x65 cm.
“Paaaank....ini satu papan buat satu foto?” tanya Bram dari luar.
“Yo-i.... ditengah-tengah ya naro fotonya. Atau gak lo kreasiin aja sendiri.” teriak Opank dari dalam foto lab.
“Sip!!”
”Gue gak nyangka lo bisa ada diperusahaan kakek gue.” kata Tya sambil menempelkan foto.
Bram cuma nyengir sambil mengamati sebuah foto yang ada ditangannya lalu menempelkannya. “Ada juga gue yang kaget. Ternyata lo cucunya Pak dirut.”
“Hhhhh......padahal gue males banget disuruh dateng tiap jumat siang cuma untuk baca dokumen-dokumen kayak gitu.”
“Lhooo.....bukannya justru enak. Paling enggak, masa depan lo udah terjamin kan?”
“Masa depan apanya? Walaupun terjamin tapi tetep aja gue gak suka....”
Bram berjalan ke sofa untuk mengambil sesuatu lalu kembali lagi dan menyerahkan sebuah amplop pada Tya.
“Apan, nih?” tanya Tya.
“Itu foto yang waktu itu. Foto lo, Resty, sama Gia lagi naek sepeda.” Kata Bram.
“Ooooh....makasih ya.” Kata Tya sambil memandangi foto itu.
“Iya...sori baru bisa gue kasih sekarang. baru sempet.”
“Gak apa-apa...” kata Tya lalu memasukankembali foto itu kedalam amplop dan mulai menempelkan foto-foto lagi.
“Trus, gimama kabar cowok lo?” tanya Bram tiba-tiba.
“Ha? Cowok? Cowok yang mana?” tanya Tya sambil melihat sebuah foto karya Indra lalu menempelkannya di papan hitam.
“Lho? Jadi masih belom pacaran juga?” tanya Bram.
Tya menggeleng.
“Yang waktu itu ngajak lo ke Bogor siapa?”
Tya melirik Bram, “Pasti Gia yang ngasih tau. Iya, kan?”
“Emang iya...” jawab Bram.
“Namanya Bintang. Dia temen sekelas gue.” kata Tya.
“Merangkap gebetan?”
“Yaaaaa...bisa dibilang begitu.” Kata Tya.
“Dasar....”
“Ngomong-ngomong Indra mana sih? Kok dia jarang nongol?” tanya Resty yang datang bersama Opank sambil membawa setumpuk foto yang dicetak dengan ukuran besar.
“Wits...dia maaaah.....orang super sibuk. Lagi banyak order foto.” Jawab Bram.
“Gila tuh orang.” Kata Resty sambil menyusun foto yang ia bawa. “Kuliah iya...kerja juga....kapan tuh orang cari cewek?”
“Aaaauuuuu..... tuh.” Jawab Bram.
“Trus Gia mana?” tanya Tya.
“Tadi dia abis nolongin orang.” Kata Opank sambil mengambil gambar Resty, Tya, dan Bram yang sedang sibuk.
“Nolongin orang?” tanya Tya.
“Iyaa...” jawab Opank.
“Sampe nyebur ke danau, lagi.” tambah Bram.
“Apa? Nyebur ke danau?” tanya Resty.
“Gimana ceritanya? Emangnya dia nolongin siapa?”
“Wuiiiiih...seru deh..... kayak film action.” Kata Bram.
Opank pun mulai bercerita tentang kejadian tadi. Sambil ikut menempel-nempelkan foto.


Sementara itu. Gia sedang berada di rumah Rivo. Gia duduk di depan perapian untuk mengeringkan dirinya.
“Nih...” kata Rivo sambil memberikan secangkir coklat panas pada Gia.
“Makasih...” kata Gia dengan suara parau.
“Kenapa lo nolongin gue?”
“Karena belom saatnya elo untuk mati.” Kata Gia. “Dan gue yakin... tadi sebenernya lo gak mau mati. Tapi sisi lain diri lo yang jahat nyuruh lo untuk nyebur.”
Rivo hanya diam. Gia tau tebakannya benar.
“Biar gue tebak. Pasti sebelom lo mutusin untuk nyebur, lo abis ngeliat diri lo di kaca. Trus rasa benci lo timbul, dan seakan bilang sama lo ‘Rivo, buat apa lo hidup?’ iya, kan? Gue bener, kan?”
Rivo masih diam. Gia benar lagi. Gia pun meminum coklat-nya.
“Ini...gara-gara orang tua gue. Kenapa, sih gue selalu keliatan gak bisa apa-apa didepan mereka? Selaluuuu... aja kakak-kakak dan adik gue yang paling hebat.” Kata Rivo yang mulai angkat bicara. “Apa salah kalo gue suka main piano? Apa salah kalo gue lebih suka ngelukis ketimbang bisnis? Apa salah kalo cita-cita gue jadi seorang seniman dan bukan orang kantoran?”
Gia berpikir sebentar. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. Gia memegang pundak Rivo. “Gue bisa bantu lo.”
“Gak....gak usah.....”
“Kenapa?”
“Gue takut...”
“Apa yang mesti lo takutin?”
“Gue takut nanti gue salah jalan dan gue makin jelek dimata mereka.”
“Percaya deh sama gue.” kata Gia. “Temen gue mau ngadain pameran. Dia pengen dipamerannya ada semacam live performance. Gue mau lo main piano disana. Yaaa.... satu-dua lagu, lah.”
“Gak!!.... gue kan udah bilang kalo keluarga gue gak suka kalo gue main piano.”
“Justru itu!!” teriak Gia yang sudah tidak sabar. Ia memungut sebuah buku tebal dari lantai yang disampulnya tertulis ‘Ekonomi & Bisnis’ lalu melempanya keperapian. Rivo ingin mengambilnya tapi sudah terlambat. Buku itu sudah terbakar. “Gak usah dipungut! Buat apa lo harus ngelakuin hal yang gak lo suka?” kata Gia dengan suara lantang sambil menunjuk buku yang sudah hangus terbakar dan perlahan menjadi abu. “Buat apa lo belajar bisnis tapi hati lo sebenernya cuma pengen ngelukis? Buat apa!!??”
Rivo diam tertunduk. “Buat.... orang tua gue...”
“Denger, ya, Vo... kalo mereka emang orang tua yang sayang sama anaknya, harusnya mereka tau kalo elo ini berbakat. Harusnya mereka ngerti kalo lo ini luar biasa. Tapi apa yang mereka perbuat sama lo, hah? Ngejadiin lo sakit jiwa kayak gini? Orang tua macem apa mereka? Punya anak yang berbakat kayak gini bukannya dimanfaatin. Bikin gallery kek. Art performance, kek. Kan mengahsilkan uang juga. Tapi mereka malah bikin lo kayak gini.”
Rivo masih diam. Gia manatap Rivo yang tertunduk.
“Hhhhh......” Gia menarik nafas agar urat-uratnya sedikit relax. “Kayaknya untuk bikin lo sadar lumayan susah, ya? Gue harus pulang. Masih ada yang harus gue kerjain. Lo pikirin kata-kata gue. Kabarin gue secepatnya.” Gia pun pergi.
Dari belakang meja dapur, pak Parmin tersenyum. Ia tahu Gia akan segera menyadarkan Rivo.

bab 8

BAB 8




Resty sedang berjalan sepanjang lorong kelas IPS saat istirahat. Ia sedang mencari dua temannya. Namun tiba-tiba ada yang mencengkeram tangannya.
“Mma-Manda....?” Resty kaget.
“Res....bisa ngomong sebentar, gak?”
“Eeeeee....”
“Lo gak buru-buru, kan?”
“E-enggak siiiiiih...Emangnya ada apaan?”
Manda pun menggeret Resty.


Sementara itu, sepeninggalan Gia, Tya pergi sendirian ke kantin. Tadinya mereka mau sama-sama mencari Resty dikantin, tapi ditengah jalan, Gia dipanggil oleh panitia buku tahunan untuk membicarakan sesuatu. Jadi terpaksa Tya kekantin sendirian.
“Tya.....” panggil seseorang yang sedang berjalan menghampirinya.
“Hai, Tang....” Tya menyapa Bintang yang sedang berlari dari arah kantin.
“Sendirian aja?” tanya Bintang sambil berjalan disebelh Tya.
“Iya...Gia lagi nemuin panitia buku tahunan.”
“Pantes sendirian aja. Biasanya bertiga sama dua temen lo itu.” Bintang menggigit roti kejunya. “Ngomong-ngomong Jumat kemaren lo kemana? Kayaknya gue liat lo dijemput cowok?”
“Oh, itu.... sepupu gue. Namanya Putra.” Kata Tya. “Jumat kemaren, gue disuruh kerumah kakek gue.”
“Ooooh....” gumam Bintang. “Oiya, gimana kabarnya Koro?”
“Koro....baik-baik aja. Tapi larinya belom bisa cepet.”
Bintang spontan ketawa. “Dasar.... ada-ada aja..”
“Eh, iya..... kata lo Koro punya separo nyawa lo, kan?”
Bintang mengangguk.
“Akhir-akhir ini dia kok kayaknya murung terus, ya? Trus kayaknya agak emotional gitu. Soalnya dia suka nyerudukin badannya ke dinding kandangnya. Jangan-jangan lo juga lagi begitu?”
Bintang tidak menjawab. “Ty... lo mau beli apa?”
“Oh, iya....eee...roti keju satu, Mbak.” Kata Tya pada penjaga kantin.


“Tunggu-tunggu..... gue gak ngerti.” kata Resty pada Manda. “Kepribadian banyak gimana maksud lo?”
“Ini kedengerannya emang gak masuk akal, tapi yaa... emang begitulah Vino.” Kata Manda. “Lo suka ngerasa gak? Kadang dia baiiiik banget, kadang sikapnya maniiiiiis banget, tapi besoknya dia kayak gak kenal sama lo, atau tiba-tiba dia jadi dingin.”
Resty mengangguk. “Tapi kenapa dia begitu?”
“Karena sebenernya dia lagi nyari jati dirinya.”
Lalu dia teringat peristiwa ulang tahunnya Vino kemarin. Resty pun mengangguk. “Oiya, kemaren gue dateng ke ulang tahunnya Vino.....”
Manda terlihat kebingungan. “U-ulang tahun?”
Resty mengangguk. “Katanya dia emang sengaja gak ngundang lo.”
“Res, ini bukan masalah diundang apa enggak. Tapi masalahnya ulang tahun Vino bukan bulan ini. Tapi masih empat bulan lagi.”
“Apa?!!” Resty gak percaya.

***

“Mungkin itu salah satu alesan supaya dia bisa ngajak lo party kali, Res...” kata Gia menanggapi cerita Resty saat mereka berjalan disepanjang Jalan Surabaya. Berhubung guru les mereka gak bisa dateng, jadi jadwal mereka hari ini kosong, maka dari itu mereka memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Jalan Surabaya.
“Gak...gak...lebih tepatnya....dia cuma pengen nyari temen.” Kata Tya yang sedang memperhatikan benda seperti helm yang dipakai untuk menyelam.
Resty dan Gia menatap Tya. Tatapan mereka seolah mewakilkan pertanyaan yang tidak keluar dari mulut mereka, yaitu ‘Maksud lo?’.
“Gini....lo liat kan disekolah Vino punya banyak temen?” kata Tya.
Gia dan Resty mengangguk.
“Tapi coba deh lo liat bener-bener. Perhatiin deh. Apa Vino punya temen yang selalu bareng sama dia?”
“Maksud lo temen kayak kita gini?” tanya Resty.
“Sip.” Kata Tya. “Gak ada, kan? Kadang Vino sama Dion, kadang sama Angga, kadang sama Derry. Menclok-menclok gitu, deh. Nah....lo simpulin sendiri deh tuh penjelasan gue.”
“Kesimpulannya... dia sebenernya kesepian.” Kata Gia sambil melihat hasil jepretannya pada layar kameranya lalu mulai mengambil gambar lagi.
“Sip.” Kata Tya.
“Trus soal kepribadian gandanya?” tanya Resty.
“Itu ya karena dia gak punya temen. Dia gak pernah punya lingkungan sosial yang tetap untuk ngebentuk jatidirinya. Dia emang bisa beli seluruh dunia, kalo dia mau, dengan uangnya yang banyak itu. Tapi dia gak akan pernah bisa ngebeli jatidiri, kan, Res?” kata Tya lagi. “Jatidiri itu harus dicari sendiri.”
“Udah...tinggalin aja tuh orang....” kata Gia sambil terus menjepretkan kameranya.
“Iya.... berpengaruh buruk.” Kata Tya. “Masukin aja dia ke daftar persona non grata [1] lo.”
Sesaat Resty mencerna kata-kata Tya. Pengaruh buruk? Pikirnya. Kayaknya gue pernah denger orang ngomong gitu, tapi dimana, ya?
“Tapi kok lo gak bilang sama kita kalo lo dateng ke ulang tahunnya Vino?” tanya Tya.
“Ulang tahun palsu.” Gia menegaskan.
“Iya... ulang tahun palsu.” Kata Tya. “Kenapa lo gak cerita sama kita?”
“Eeeee.....itu...itu....” Resty gelagapan. Ia bingung bagaimana menjelaskannya.
“Pokoknya ceritain.” Kata Tya memaksa.

***

Bel pulang berdering nyaring dan panjang. Semua murid berhamburan keluar kelas.
“Duluan, ya, Ty...” pamit Bintang sambil berjalan keluar kelas lalu menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu diluar.
“Cieeee.... sejak kapan Bintang harus pamit sama lo kalo mau pulang?” tanya Sofie, teman sebangku Tya.
“Sejaaaaak....mau tau aja lo.” Kata Tya.
“Yeee....dasar.” kata Sofie lagi.
Tya melihat Gia sudah berada di pintu kelasnya seperti biasa. “Udah, ah... gue balik duluan, ya.” Kata Tya pada Sofie. “Siska, Disa...gue duluan, ya. “ pamit Tya pada dua temannya yang duduk dibelakangnya.
“Yo.....” jawab mereka berdua.
Tya pun menghampiri Gia. Dari kejauhan Resty melambai dari arah kelasnya. Saat mereka saling menghampiri, handphone Gia berbunyi.
“Ya, Pank?” jawab Gia.
“Gi... lo dimana?”
“Gue masih di sekolah. Udah mau pulang sih.” jawab Gia. “Emangnya kenapa?”
“Lo bisa kesini gak?”
“Emang ada apa, sih?”
“Lo kesini aja dulu...nanti juga tau. Cepetan, ya.” kata Opank lalu menutup telponnya.
“Ha-halo...pank? Opank!! Iiiiih… ditutup, lagi.....”
“Kenapa, Gi?” tanya Resty yang baru sampai.
“Hari ini kita gak ada jadwal apa-apa, kan?” tanya Gia.
“Enggak deh kayaknya.” Kata Tya.
“Anterin gue kerumahnya Opank yuk.”
“Pas banget hari ini gue lagi bawa mobil.” Kata Resty.
“Oke...cabuuuuut!!!” kata Tya.

Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Opank. Opank langsung menyambut mereka.
“Untung lo cepet dateng.” Kata Opank.
“Emang ada apaan, sih?” tanya Gia.
“Masuk aja.” Kata Opank.
Mereka berempat pun masuk kedalam studio. Gia sangat terkejut waktu menemukan seseorang sedang duduk di sofa studio yang menghadap ke danau.
“Rivo......” Gia duduk disamping kanan Rivo dan Opank disamping kirinya, sedangkan Tya dan Resty duduk di single chair yang terletak di seberang sofa besar tempat Gia dan Opank duduk bersama Rivo. “Kenapa dateng kesini?”
Rivo menatap Gia dengan muka pucatnya, “Kata lo... gue boleh kesini kalo ada apa-apa.”
“Iya...tapi emangnya lo kenapa?”
“Gue gak ada kenapa-kenapa.”
Tya dan Resty saling berpandangan.
“Gue kesini cuma mau bilang kalo gue setuju.” Kata Rivo. Gia tidak mengeti maksud Rivo. “Gue setuju untuk main piano di pameran itu.”
“Kenapa tiba-tiba lo berubah pikiran?”
“Setelah gue pikir-pikir...... dan setelah diskusi sama Pak Parmin.... gue pikir omongan lo ada benernya juga. “ kata Rivo. “Gue harus bisa buktiin ke orang tua gue kalo yang gue lakuin selama ini ada manfaatnya juga.”
Gia tersenyum. “Harusnya....dari dulu lo begini, Vo....” kata Gia. “Tapi gak apa-apa. Lebih baik telat daripada enggak sama sekali.”
Tiba-tiba handphone Resty berbunyi. Dilayarnya muncul nama Vino.
“Bentar, ya... gue angkat dulu.” Kata Resty lalu keluar dari studio. “Hallo...” kata Resty menjawab telpon itu.
“Lagi ngapain, Res? Kok lama banget diangkatnya?”
“Udah deh.... sebenernya lo mau ngapain nelpon-nelpon gue? mau ngarang kalo lo ulang tahun lagi? Trus bikin gue mabok lagi? Untung waktu itu ada temen gue, kalo enggak.........”
“Kalo enggak kenapa?”
Resty diam saja.
“Gue lagi ngadain party nih dirumah dateng dong.”
“Lo gila kali, ya!!! Sampe kapan sih lo mau party-party kayak gini terus? Emangnya setiap detik hidup lo harus diisi sama party, apa? Emangnya lo gak bisa hidup normal, apa? Emangnya lo gak bisa ngerubah hidup lo, apa? Emangnya lo............. aaaaaah! Gue udah muak sama lo!” Resty pun mematikan handphonenya.
Vino menelponnya sekali lagi, tapi Resty tidak menjawab, ia langsung menonaktifkan handphonenya.

***

Tya berjalan memasuki gedung kantor di hari jumat seperti yang telah dijadwalkan kakeknya. Ia melihat jam tangannya. Masih jam setengah satu kurang. Mira pasti masih makan siang. Secara gue baru masuk jam satu, gitu. Pikirnya. Ia menekan tombol lift, dan tidak sampai satu menit, lift-nya terbuka. Orang-orang kantor keluar dari lift itu. Namun waktu Tya akan masuk ke dalam lift, ia melihat Bram diantara kerumunan orang kantor itu.
“Bram......” panggil Tya.
“Eh....Tya....baru dateng?”
“Iya...tapi kayaknya kecepetan deh. Gue baru masuk jam satu.”
“Ngopi-ngopi dulu yuk...”
“Mmmm....boleh.”


Handphone Resty berbunyi saat ia sedang tidur-tiduran dikamarnya sambil melihat-lihat foto hasil jepretan Gia yang sudah dicetak. Vino. Nama itu tertera dilayar handphonenya. Ia ragu antara ingin menjawabnya dan tidak. tapi saat ia sedang memikirkannya, handphonenya sudah berhenti berdering. Ia kembali melihat foto-fotonya. Namun tidak lama kemudian handphonenya berdering lagi. Dari Vino lagi.
“Hallo....” kata Resty yang akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon itu.


Gia mengajak Rivo ke butik milik tentenya. Lalu ia memilihkan beberapa baju untuk Rivo. Setelah itu Rivo mencoba satu-persatu baju-baju itu di fitting room.
“Ini orang yang kamu ceritain ditelpon waktu itu?” tanya tantenya saat Rivo didalam kamar pas. Sebelumnya Gia memang pernah bercerita tentang Rivo pada tantenya.
Gia mengangguk.
“Tapi gak keliatan kayak orang depresi?” Bisik sang tante.
Gia cuma angkat bahu sambil melihat ke tantenya itu.
“Mana badannya bagus banget, tinggi, ramping, pokoknya kayak model. Dimana kamu nemuin orang antik kayak gini?”
Gia cuma tersenyum, “Long story, Tan…nanti kalo ketemu diarisan keluarga, Gia ceritain deh.”
“Janji, ya.”
Gia mengangguk.

Jam satu kurang lima menit. Tya melihat jam tangannya.
“Duluan, ya, Bram....” kata Tya sambil keluar dari lift.
“Daaah....”
Tya mengangguk sesaat sebelum liftnya benar-benar tertutup. Lalu ia berjalan sepanjang lorong menuju ruangannya. Dan begitu ia masuk, ada orang yang sedang berdiri mengahadap ke jendela besar.
“Mas Rangga?” kata Tya sambil melangkah masuk.
“Jadi....dia siapa?”
“Eeee....ss-siapa?”
“Yang minum kopi tadi.”
“O-oooh... itu.” Tya gelagapan. Darimana mas Rangga tau? Batin Tya. “Dia itu temen aku, dan kebetulan dia kerja didepartemennya Putra.”
“Kebetulan sekali, ya?”
Tya ngangguk-ngangguk.
“Temen apa?”
“Temen.....main.”
“Kamu main sama orang yang lebih tua?”
“Iya.... dia itu fotografer kenalan temen aku. Jadinya aku juga kenal.”
“Fotografer?”
Tya ngangguk.
“Apa...dia orangnya baik.”
“Baik, kok....” jawab Tya.
Tiba-tiba Mira masuk. “Maaf saya telat.” Kata Mira. Lalu Mira hendak keluar lagi waktu melihat Rangga. “Maaf, pak...”
“Eee...gak apa-apa. Saya juga udah selesai.” Kata Rangga pada Mira.
Tya merasa lega.


Resty berjalan memasuki sebuah kafe. Ia melihat Vino sedang duduk di meja dekat kaca jendela air [2]. Vino sedang duduk dengan murung sambil menatap setiap debit air yang mengalir. Didepannya ada sebuah cangkir berisi capucino, bukan alkohol seperti biasanya. Tadi waktu menelpon Resty Vino terdengar seperti bukan Vino yang biasanya berbicara dengan nada angkuh. Tapi kali ini Vino berbicara dengan nada lemah.
“Reeeees.....bisa temenin gue sebentar, gak? Kalo lagi sibuk sih, gak usah.” Kata Vino waktu ditelpon tadi.
Sebenarnya Resty enggan datang mengingat peringatan dari dua temannya dan juga Yozi, jadi ia mengatakan kalau ia sedang sibuk. Tapi hal lain membuatnya datang. Saat ia sedang berpikir, tiba-tiba mas Reza, kakaknya datang dan Resty menceritakan semuanya pada kakak satu-satunya itu.
“Jujur aja......gue setuju sama temen-temen lo itu.” Kata Mas Reza. “Tapi kalo gue jadi elo... gue akan ngikutin kata hati gue dulu. Baru liat apa yang bakalan terjadi nanti. Kadang nekat itu perlu, lho, dek.”
Dan karena itu lah Resty memutuskan untuk datang.
Resty duduk didepan Vino.
Vino kaget sekaligus senang melihat Resty sudah datang, “Katanya lagi sibuk, Res?”
Resty segera menggeleng, “Gak kok....udah selesai. Emangnya ada apa lo nyuruh gue dateng kesini.”
“Gue tau lo maksain dateng, kan?”
Resty kaget, “Enggaaaaak....sebenernya gue emang lagi gak sibuk. Cuma.....”
“Temen-temen lo yang ngelarang lo dateng? Jadi tadi lo bilang kalo lo sibuk?”
Resty segera menggeleng. “Mereka gak tau, kok kalo gue kesini.”
Vino mengangguk-angguk lalu menopangkan dagunya pada tangannya. Ia menatap ke jendela lagi. pikirannya kosong. Sesaat Resty melihat ada yang aneh. Vino yang biasanya angkuh, sombong, banyak gaya, tapi sekarang Resty melihat Vino seperti sudah mendarat ke bumi. Dan sepertinya ia lebih pasrah.
Lalu Vino melihat Resty sambil menertawakan dirinya sendiri.
“Kenapa, Vin?”
“Gak....gue cuma heran. Dari sekian banyak temen gue, tapi kenapa harus elo yang gue panggil ke sini?”
Resty ikut menertawakan dirinya sendiri. “Mungkin karena lo ngerasa gue satu-satunya orang yang bakalan nurut sama lo dan dateng kesini.”
Vino menggeleng. “Bukan.” Kata Vino. “Karena gue ngerasa, lo satu-satunya orang gue yang gue anggap bener-bener manusia.”
Ha? Apa maksudnya? Jadi selama ini dia gak temenan sama manusia? Pantesan aja dia aneh gitu. Batin Resty.
“Maksudnya.... lo satu-satunya orang yang bisa gue ajak ngomong dengan pikiran jernih.” Kata Vino lagi. “Temen-temen gue yang lain….mereka temenan sama gue karena gue kaya, gue populer disekolah, gue punya mobil bagus….”
“Baru sadar?” sela Resty.
Vino cuma tersenyum angkuh. “Dan gue cukup kagum sama lo.”
“Sama gue?”
Vino mengangguk. “Lo cewek pertama yang nolak gue. Lo satu-satunya cewek disekolah yang jutek sama gue. Lo satu-satunya cewek yang gue ajak kerumah tapi lo malah gak mau. Padahal banyak cewek yang pengen dateng ke rumah gue, termasuk Manda.”
“Jadi Manda belom pernah kerumah lo?”
“Belom.” Vino menggeleng. “Lo boleh gak percaya, tapi emang begitulah.”
“Jadi, sebenernya lo manggil gue kesini mau ngomong apa?” tanya Resty.
“Gue pengen ke luar negeri aja, Res. Gue mau mulai semuanya dari awal.”
“Tunggu... gue gak ngerti.”
“Iya... mulai dari awal. Dari nol. Di lingkungan baru dimana orang gak kenal gue.”
“Tapi kenapa tiba-tiba lo pengen begitu?”
“Karena lo udah ngebuat gue sadar.”
“Gue?”
Vino mengangguk, “Oiya, mau pesen minum apa?”


Tya sedang berjalan bersama Mira. Hari ini Mira ditugaskan untuk mengenalkan seluruh seluk-beluk kantor ini. Mira sedang menjelaskan sesuatu, tapi Tya tidak mendengarkannya. Ia melihat Rangga sedang berjalan dengan asistennya. Lalu ia berbelok ke salah satu ruangan yang ada di lorong tempat ia berdiri.
“Eee...maaf, kalo ruangan yang itu apa?”
“Ooooh.... itu departemen......”
Sebelum Mira selesai menjawab, Tya sudah keburu jalan. Tya mengintip kedalam diantara krei-krei yang melintang hoizontal. Disana ia melihat dua sepupunya, Rangga dan Putra sedang berbicara. Dan ia juga melihat Bram diantara mereka. Bram juga ikut bicara. Bukan...lebih tepatnya Rangga yang berbicara pada Bram. Saat Bram sedang sibuk memoto sebuah produk, tiba-tiba Rangga menghampirinya dan berbicara denagnnya. Entah apa yang sedang Rangga bicarakan disana.
“Mbak..... ini departemen periklanan. Mari saya antar lagi....” kata Mira.
“Oooh...I-iya...iya...”


Rivo keluar dari fitting room dengan baju terakhirnya. Sebuah kemeja lengan panjang hitam bergaris vertikal yang dipadukan dengan celana panjang hitam. Tubuh Rivo yang tinggi dan ramping membuat baju itu pas sekali dibadannya.
“Gimana, Gi?” tanya tantenya pada Gia saat ia selesai membenahi dasi Rivo.
“Ini bagus banget. Pas.”
Tantenya tersenyum, “Kalau begitu...ini hadiah untuk Rivo dari Tante. Semoga berhasil, ya konsernya....”
“Cuma pertunjukan kecil aja kok, Tante...” kata Gia. “Makasi banyak, ya, Tante. Jangan lupa dateng ke pamerannya.”
“Iya....nanti Tante pasti dateng.”


“Omongan lo yang ditelpon kemaren itu langsung ngebuat gue sadar. Gue gak bisa terus-terusan begini. Harus ada perubahan di hidup gue. Dan saat itu juga gue mutusin untuk berubah.”
“Iya, tapi kenapa harus diluar negeri? Emangnya gak bisa disini?”
Vino menggeleng, “Gue bener-bener mau mulai segala sesuatunya dari awal. Gue gak bisa berubah ditempat dimana orang udah kenal gue. Dan gue udah diskusiin ini sama kakak gue. Dan dia setuju banget.” Kata Rivo.
“Trus....orang tua lo?”
Vino tersenyum remeh. “Mereka? Mana pernah mereka peduli sama gue? Pokoknya mereka cuma tau ngasih uang ke gue.” katanya. “Tadinya gue juga setuju-setuju aja ngejalanin hidup kayak gitu. Tapi lo yang ngebuat gue sadar kalo........”
“Kalo?”
“Gue sadar kalo gue gak akan pernah biasa ngebeli kebahagiaan pake uang.”
Kali ini Resty yang tersenyum remeh. “Bukannya udah sering?”
“Maksudnya?”
“Pesta, dugem, minum sampe gila.....apa itu belom cukup untuk ngebahagiain lo?”
“Cukup....malah lebih.” Jawab Vino. “Tapi kebahagiaan yang gue dapet dari situ semuanya palsu.”
“Bagus deh kalo lo udah sadar.”
“Tapi.... apa gue gak telat, ya?”
“Gak ada kata telat untuk berubah.”
Vino tersenyum.
“Jadi...lo mau kemana?”
“Gak jauh... paling ke Singapur, Malaysia, atau gak Australi. Ya...sekitar itulah. Kakak gue yang ngurusin.”
“Trus..kapan lo berangkat?”
“Belom tau. Pokoknya begitu urusannya selesai, kakak gue ngabarin, yaudah...gue berangkat.”
Resty mengangguk-angguk.
“Tapi jangan blang siapa-siapa dulu, ya.”
“Kenapa?”
“Yaaa...gue gak mau jadi heboh aja.”
“Dasar orang populer.”
Vino tertawa kecil. “Oiya, kalo gue gak sempet...tolong sampein ke temen lo yang nolongin lo itu, sampein maaf gue karena udah mukul dia.”
Jadi...luka memar Yozi yang waktu itu bukan kepleset, ya? Jadi karena dipukul sama Vino. Batin Resty. Tapi ia malas membahas soal ini.
“Iya...nanti gue sampein kalo gue les.”
“Apa? Les?”
“Iya...dia guru les gue.”
“Gu-guru les?”
Resty mengangguk. “Tapi...itu cuma kerjaan sampingan doang, sebenernya dia punya perusahaan gitu deh. Cuma dari kecil dia emang suka jadi guru.”
“Oooooh....baguslah. Paling enggak gue tau lo bukan ditangan yang salah.” Kata Vino. “Tapi waktu gue balik nanti, gue bakal nebus lo dari dia.”
“Ha? Maksudnya?”
Vino cuma tersenyum lalu meminum capucino-nya.


Gia duduk di kursi pianonya Rivo.
“Tapi gue gak bisa main.” kata Gia.
“Coba dulu..” kata Rivo yang duduk berdua dengan Gia di kursi piano.
“Satu-satunya lagu yang gue bisa judulnya a camel takes a nap.”
“Yaudah...mainin aja.” Kata Rivo.
Gia pun mulai memainkan satu-satunya lagu yang berhasil ia pelajari sewaktu ia belajar piano dulu. Lagu yang hanya berdurasi kurang dari dua menit.
“Udah...cuma lagu itu yang gue bisa.” Kata Gia setelah memainkan lagu itu.
“Lumayan....”
“Ke padang ilalang yuk.”
“Ngapain?”
“Kan gue mau moto lo.” Kata Gia. “Ayooooo....” Gia pun menggeret Rivo.
Mereka pun berjalan menuju padang ilalang.
“Sebenernya...kenapa lo suka lagu secret garden itu?” tanya Gia saat mereka sedang dipadang ilalang.
“Karena artinya yang ambigu.” Jawab Rivo.
“Ambigu [3]?”
Rivo mengangguk, “Suatu saat nanti juga lo ngerti kenapa gue bilang ambigu.”


Hari sudah malam. Tya berada di lift. Sendirian. Tiba-tiba lift berhenti disebuah lantai. Pintunya pun terbuka. Beberapa orang masuk kedalam lift dan salah satunya adalah Bram.
“Eh, kebetulan banget. Sendirian?” tanya Bram.
“Iya...”
“Lhoo...si kacamata mana?”
Tya berpikir sejenak. Si kacamata? “Ooooh... Mira. Dia udah pulang duluan.”
“Oh.....hari ini pulang sama siapa?”
Tya menggeleng. "Belom tau....”
“Sama gue aja. Pak Putra kayaknya lagi lembur.”
“Hari ini Putra lembur?”
Bram mengangguk. “Banyak banget kerjaan yang harus dia selesein.”
Tiba-tiba handphonenya Tya berbunyi. Ada sms.
‘Ty...gue gak bisa nganter lo pulang. Hari ini gue lembur. Banyak banget kerjaan yang harus gue selesein, soalnya ayah mau kerjaan ini selesai secepatnya. Lo bisa pulang sendiri, kan? Atau nanti kalo ketemu mas Rangga minta bareng aja, oke. Putra.’
“Keliatannya emang begitu.”
Mereka pun menuju basement tempat mobil Bram diparkirkan.
“Oiya, tadi mas Rangga ke kantor lo, ya?” tanya Tya saat mereka dijalan.
“Mas Rangga?” tanya Bram. “Ooooh...maksudnya pak Rangga?”
“Iya....Rangga.”
“Tadi dia emang ke kantor. Kenapa emangnya?”
“Dia ngomong apa aja?”
“Gak nanyain apa-apa. Cuma nanya produk apa yang lagi gue foto.”
“Udah, itu doang?”
Bram mengangguk. “Iya. Selebihnya dia ngomong sama sepupunya.”
“Ooooohhhh....”
“Kok lo bisa tau tadi pak Rangga ke departemen gue?”
“Eee....tadi kebetulan gue sama Mira lagi liat-liat kantor. Trus ngeliat mas Rangga masuk ke departemennya Putra.” Kata Tya. “Udah...dia gak nanya apa-apa lagi?”
“Ada, sih satu lagi.”
“Apaan.”
“Dia nanyain gue udah kawin apa belom.” Kata Bram sambil ketawa.
“Mas Rangga nanya gitu?”
Bram mengangguk sambil berusaha menghentikan tawanya. “Pak Rangga....pak Rangga.....”
Dasar Mas Rangga. Batin Tya. Dia pasti udah ngira macem-macem.


[1] Orang yang tidak disukai.
[2] Itu lhoooo....jendela yang dilirin air. Yang keliatannya kayak ujan. Masak gak tau sih? tau kan?
[3] Satu kata mempunyai banyak arti.

bab 9

BAB 9




“Yaaaa…nebus. Masak lo gak ngerti, sih?” kata Tya sambil menggosok giginya saat Resty menceritakan soal Rivo padanya lewat telpon.
Hari sudah larut malam, tapi Resty tidak peduli. Ia ingin mendapat penjelasannya sekarang juga. Sebelumnya ia sudah menelpon Gia, tapi jawabannya, ‘Nebus? Resep obat kaleeee pake ditebus segala. Gue gak ngerti deh kalo pake bahasa kiasan begitu. Mending lo telpon Tya deh. Biasanya, kan dia yang ngerti beginian.’ Dari situlah akhirnya Resty memutuskan untuk menelpon Tya.
“Aduuuuuuh….coba lo jelasin sekali lagi.” kata Resty.
“Oke…gini…gini….” Kata Tya berusaha memikirkan kata-kata yang tepat. Ini sudah yang ketiga kalinya Tya menjelaskan, tapi Resty belum mengerti juga. “Maksudnya….selama dia pergi nanti, dia nitipin lo ke Yozi secara gak langsung. Tapi nanti pas Vino balik, dia bakal ngambil lo lagi. Gitu.”
“Bisa diperjelas lagi, gak? Masih bingung.”
Buset deh nih orang. Gue kira, cuma gue sama tukang ikan di Parung itu yang suka rada error. Ternyata Resty lebih gak nyambung lagi. “Aduuuuh….intinya dia suka sama lo!! Suatu saat nanti dia bakal ngambil lo lagi dari Yozi atau orang lain yang nyantol sama lo waktu dia pergi.” Kata Tya. “Masih gak ngerti juga?”
Tut…tut….tut….tut…tut…..Resty langsung menutup sambungan telponnya. Dia senyum-senyum sendirian di kamarnya. Sementara itu Tya sedang sibuk menggetok-getok telponnya yang ia kira rusak.
“Telpon gue kenapa, sih? Pake nge-hang segala....” pikir Tya.

***

Sabtu siang mereka bertiga pergi ke padang ilalang. Gia mendirikan tripotnya dan memasang kameranya diatasnya.
“Lang...lang....lang....lang...lang....lang....lang.....padang ilalang.” Kata Tya saat teringat akan puisi kongkret pada pelajaran Bahasa Indonesia di Primagama waktu itu.
“Lo ngapain, sih?” tanya Resty pada Tya.
“Lagi buat puisi kongkret.” Kata Tya yang sedang mengetik sesuatu di notebook-nya. “Kayaknya gue pengen masukin puisi kongkret deh di cerita gue.”
“Ngomong-ngomong kapan tuh novel jadi?” tanya Resty.
“Bentar lagi.... ini udah 75 persen kok.”
“Eh, semuanya...ayo foto.” Kata Gia memanggil kedua temannya.
Mereka pun berdiri ditempat yang Gia arahkan.
“Oke..kalo gue bilang lompat langsung lompat, ya.” Kata Gia seraya menyalakan timer di kameranya. Setelah itu ia bergabung dengan temannya yang sudah sejak tadi berdiri membelakangi kamera seperti yang ia arahkan. Jadi mereka foto tidak mengahadap ke kamera.
“3....2....1......LOMPAT!!!”
Tidak lama kemudian hujan turun. Untungnya mereka berhasil mengambil beberapa foto, mereka pun segera pulang ke studio.
“Pamerannya kapan, sih, Gi?” tanya Resty yang sedang melihat-lihat notebook-nya Tya.
“Dua minggu lagi.” kata Gia yang sedang sibuk berkutat di depan komputer untuk mengeprint hasil jepretannya.
“Trus yang ngisi live performance-nya siapa?” tanya Tya yang sedang duduk diberanda sambil memeluk lutunya.
“Ada deeeeeh...liat aja nanti.” Kata Gia lalu melihat hasil print-annya.
“Liat, Gi....udah jadi, ya?” tanya Tya yang langsung menghampiri Gia.
Gia memberikan hasil fotonya pada Tya.
“Eh, yang lompat tadi gue mau dong. Print-in lagi buat gue.”
“Iya...iya... ini lagi gue print.”

***

Senin siang setelah pulang sekolah, Tya mendapat telepon dari Putra.
“Ya, hallo....”
“Ty... gue udah di depan sekolah lo, nih.”
“Ngapain?”
“Ayah pengen ketemu sama semua cucunya di kantor termasuk elo. Buruan keluar.”
“Iya..iya... nih gue udah mau jalan keluar.”
Tya pun segera pamit pada dua sahabatnya itu.
“Gue duluan, ya..” pamit Tya.
“Duuuuh.... yang sibuk.” Sindir Resty.
“Iiiiih..rese’ deh.” kata Tya. “Daaaaah...”
“Daaaaaahh...”
Setelah pamit pada dua sahabatnya, Tya langsung menemui Putra diparkiran depan sekolahnya.
“Emangnya Ayah mau ngomongin apa, sih?” tanya Tya saat mereka diperjalanan.
Putra angkat bahu. “Kayaknya sih penting. Menyangkut masa depan.”
“Mas Rangga juga ada?”
“Ya iyalaaaaah...dia kan juga termasuk cucunya Ayah. Lo gimana, sih?” kata Putra. “Emangnya ada apaan? Kok tiba-tiba nanyain Mas Rangga?”
“E-enggaaaaaak....nanya doang.” Kata Tya. Semoga aja nanti mas Rangga gak ngomong macem-macem tentang Bram. Batin Tya.

Sementara itu, Gia dan Resty belum pulang. Mereka main-main dulu dengan si kucing berskin dollar.
“Enak banget Si Tya hari ini gak les.” Kata Gia.
Tiba-tiba segerombolan anak cowok melintas didepan Resty dan Gia. Muka mereka pada sangar semua.
“Ada apaan, sih, Gi? Tumben banget pada pulang bareng-bareng?” tanya Resty.
Gia mengerutkan keningnya. “Gue kok ngerasa ada yang gak beres sama mereka, ya, Res?”
“Ikutin yuk! Hari ini kebetulan gue bawa mobil.” Kata Resty.
“Ngapain ngikutin mereka? Nanti kan kita ada les.”
“Ya-elaaaah... bolos sehari aja kan gak bakalan bikin kita bego.” Kata Resty. “Yuk, ah... buruan.”
Resty pun segera menggeret Gia.


Putra memarkirkan mobilnya di basement lalu mereka segera naik lift keatas.
“Tapi, Put... gue masih pake seragam gini.” Kata Tya saat mereka di lift.
“Udah gak apa-apa. Gak bakal digebukin kok.” Canda Putra.
“Iiiiiiiiiihh...... jayus...”
Saat Tya keluar dari lift, tiba-tiba handphone Tya bergetar. Ada sms. Dari Gia.
‘Ty....hari ini kita gak les juga dooooong a.k.a bolos. Hehehe...’
Tya me-reply smsnya Gia.
‘Lah...lo berdua ngapain? Kok gak les?’ sent.
Dddrrrrrtttttt.......dddrrrrrrrrrttttttttt........
‘Tau nih Resty! Ngajakin Mission Impossible.’
Putra membukakan pintu ruangan kakeknya. Mereka pun masuk. Saat mereka datang, ternyata yang lainnya sudah datang. Ada sepupu tertua Tya yang bernama Putri yang gak lain adalah kakaknya Putra. Ada Rangga, sepupu tertua kedua. Lalu ada Ivan, sepupu tertua ketiga.
“Siang Ayah....” sapa Tya lalu ikut bergabung dengan sepupu-sepupunya yang sedang duduk bersama kakeknya.
“Semuanya sudah lengkap, kan?” tanya kakeknya. Semuanya mengangguk. “Kalian, sengaja Ayah kumpulkan disini untuk.......” kakeknya Tya mulai berbicara panjang lebar tentang masa depan perusahaan, tetapi Tya diam-diam malah sibuk melanjutkan sms dengan Gia.
‘Mission Impossible apaan, sih?’ sent.
Gia tidak membalas. Tya pun mendengarkan kakeknya berbicara. Namun sepuluh menit kemudian handphonenya bergetar.
Dddrrrrrtttttt.......dddrrrrrrrrrttttttttt........
‘Anak cowok sekolah kita tawuran!!!! Gue lagi ngamatin dari jauh sama Resty. Ngeri banget. Tapi gue harus ambil fotonya. Mommentnya jarang banget!’
‘Iiih...hati-hati, lhooo nanti malah lo berdua yang kena pukul.’ sent
Dddrrrrrtttttt.......dddrrrrrrrrrttttttttt........
‘Tenang....kita ada ditempat yang aman kok.’
‘Ooooh....bagus deh..’
Sebelum Tya sempat mengirim sms-nya, handphonenya sudah berada ditangan kakeknya.
“Kamu sedang apa dari tadi?!” tanya kakeknya dengan nada marah.
“Elo siiiih.....” bisik Putra.
“Kamu tidak mendengarkan Ayah, ya? Memangnya sms itu lebih penting dari Ayah?!!”
Tya tertunduk, “Maaf Ayah...Tya gak maksud untuk......” Tya membiarkan kata-katanya mengambang. Ia bingung harus menjawab apa.
Akhirnya setelah menarik nafas, kakeknya kembali melanjutkan pembicaraannya.
Namun tidak lama kemudian, handphone Tya yang ditaruh dimeja kembali bergetar, kali ini bergetar lama sekali. Sepertinya itu telpon, tapi Tya tidak bisa melihat nama yang tertera dilayar handphonenya. Ruangan pun hening. Yang terdengar hanya suara getar handphone. Semua mata sepupunya dan juga kakeknya mengarah padanya.
“Biar....Tya matiin aja handphonenya...” kata Tya seraya mengambil handphonenya dari meja.
“Jangan!!!” kata kakeknya lalu merebut handphone itu dari tangan Tya. “Biar Ayah yang angkat. Ayah pengen tahu...seberapa penting telpon ini dibandingkan dengan Ayah.” Katanya lalu menekan tanda menjawab pada handphone Tya.
Tya dan sepupu-sepupunya dapat mendengar suara diseberang sana sedang berteriak-teriak dikuping kakek mereka. Tapi tidak jelas apa yang dibicarakan. Kakek mereka hanya diam saja mendengarkan suara teriakan itu sambil memandangi Tya dengan raut muka marah. Namun sesaat kemudian wajahnya berubah. Ia mengerutkan keningnya lalu menjauhkan telpon darinya dan memberikan telpon itu pada Tya.
Tya mengambil handphonenya dengan ragu. Namun sorot mata kakeknya seperti mengatakan ‘Ambil aja. Kamu boleh kok bicara sama orang yang disebrang sana.’ Dengan perlahan Tya mendekatkan telponnya pada kupingnya.
“Ha-hallo....”
“TY...LO DENGERIN GUE GAK SIH?!”
“I-iya....kenapa, Gi?” Tya mengecilkan volume suaranya sambil sesekali menatap pada kakeknya yang sedang memperhatikannya.
“BINTANG BERDARAH!!! DIA KORBAN TAWURAN!! SEKARANG DIA LAGI DIBAWA KERUMAH SAKIT SAMA KITA!! PARAH BANGET. LO CEPETAN KESINI, YA KALO UDAH SELESAI URUSAN SAMA KAKEK LO. CERITANYA PANJANG!!!”
Tut...tut...tut.....tut.....tut.....
Tya masih tidak percaya apa yang ia dengarkan di telpon barusan. Ia tidak ingin percaya. Sangat ingin tdak percaya. Ia sangat ingin berpikir kalau Gia sedag berbohong. Tapi sisi lain dari dirinya sangat percaya kalau suara panik Gia barusan sungguh nyata. Bukan dibuat-buat. Apalagi Gia paling gak bisa akting. Tya pun mulai gemetaran dan mengeluarkan air mata.
“Sana pergi....urus dia dulu.... nanti baru bicara sama Ayah lagi.” kata kakeknya dengn perihatin. “Putra...antarkan Tya...”
“Iya, Ayah.”
Tya segera lari keluar secepat yang ia bisa. Putra pun segera mengejarnya. Tya berhenti didepan lift menunggu lift datang. Tapi lift-nya tidak kunjung terbuka juga. Akhirnya ia turun melalui tangga darurat. Ia tidak pernah bisa lari secepat ini. Kalau soal olah raga, diantara mereka bertiga, Tya lah yang paling payah. Tapi kali ini entah kenapa ia bisa lari secepat ini. Ia juga tidak tahu. Sesampainya dibawah, ia bertemu Bram. Tapi menyapa pun Tya tidak sempat ia terus berlari diikuti Putra dan meninggalkan Bram yang heran melihat anak SMA lari secepat itu diikuti oleh seseorang yang Bram kenal sebagai bos didepartemennya.
“Put....cepet, dong!! Cepet...cepet.....” kata Tya dengan Panik.
“Iya....sabar, Ty.... ini kan lampu merah...” kata Putra dengan sabar.
Akhirnya dua puluh lima menit kemudian mereka sampai di rumah sakit tempat Bintang dilarikan oleh Resty dan Gia. Tya melihat dua sahabatnya itu sedang berada di ujung lorong rumah sakit. Orang tua Bintang juga ada disana. Tya segera berlari kesana.
Resty segara memeluk Tya yang sedang panik. “Sabar, ya, Ty..”
“Gimana Bintang? Baik-baik aja, kan?”
“Kalo dua tusukan di perut...gue gak yakin masih bisa dibilang baik-baik aja.” Kata Gia.
“Giaaa!!...” Resty memelototi Gia. “Tenang aja, Ty...dia lagi dioprasi, kok.”
Mereka pun menunggu dan berdoa. Berharap semoga Bintang masih diijinkan untuk hidup. Dua jam kemudia dokter pun keluar dari ruang oprasi. Semuanya pun beranjak dari tempat duduk dan mengerubungi dokter itu. Berharap si dokter tersenyum dan mengabarkan berita baik. tapi si dokter cuma geleng-geleng kepala dengan raut wajah menyesal. Sedetik kemudian Mamanya Bintang nangis histeris. Namun Tya tidak mau percaya sebelum melihatnya sendiri. Kali aja dokternya lagi bercanda.
“Boleh saya liat Bintang, dok?” tanya Tya dengan memelas.
“Ya...silakan.....”
Tya pun masuk ditemani Resty. Sementara itu Putra hanya terpaku dari jauh melihat sepupunya yang bisanya selalu riang sekarang panik.
Diruang oprasi yang dingin. Para suster sedang memberesi alat-alat oprasi. Dan ditengah-tengah ruangan Bintang terbaring di meja oprasi. Tubuhnya kaku. Tya mendekati meja oprasi dengan perlahan. Lalu ia kembali menangis.
“Kenapa Bintang gak bangun, Res? Kan oprasinya udah selesai. Res... Bintang harus bangun. Besok, kan harus sekolah.”
Resty segera membawa Tya keluar.

***

Keesokan harinya, pemakaman Bintang dilaksanakan pada pagi hari menjelang siang. Teman-teman sekelasnya dan perwakilan setiap kelas diberi dispensasi untuk melayat. Resty dan Gia untungnya termasuk orang yang diberi dispensasi. Sebenarnya mereka bukan termasuk yang mendapat dispensasi, tapi mereka memaksa teman mereka yang mendapat dispensasi untuk bertukar dengan mereka.
Resty dan Gia memeluk Tya yang terus saja menangis.
“Udah, Ty....jangan nangis. Harus direlain, ya....” kata Resty.
Sudah yang kesepuluh kalinya Resty berkata seperti itu. Tapi Tya tidak juga berhenti menangis. Urukan tanah pun semakin tinggi. Dan semakin menenggelamkan Bintang.
“Res....apa nanti Bintang gak kedinginan didalem sana? Res... bilang sama tukang kuburannya, jangan banyak-banyak tanahnya. Res... nanti Bintang kelaperan. Res......”
Resty memeluk Tya lebih erat.
“Tya.....udah, dong...” Gia berusaha menenangkan sahabatnya itu.

Sore hari menjelang malam, Tya sedang duduk di meja dapur rumahnya. Hari itu rumahnya sepi. Semua orang belum kembali dari aktivitasnya. Ia membiarkan TV menyala agar suasananya tidak terlalu sepi. Dari meja dapur, matanya berkeliling kesetiap sudut rumah. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kotak panjang berwarna biru yang tergeletak disudut meja dapur yang ia kenal sebagai keju blok. Ia pun meraih keju itu.
Keju itu mengingatkannya pada Bintang. Bintanglah orang pertama yang membuat ia suka pada roti keju. Tya pun memakan keju blok itu langsung dari bungkusnya. Tidak peduli nanti Ibunya marah-marah kalau tahu soal ini. Ia cuma ingin makan keju. Dan dari kejauhan, ia melihat berita di TV. Berita tentang tawuran antar pelajar sekolahnya dengan sekolah lain. Tya kembali menangis.
Tidak lama kemudian, adiknya yang paling kecil, yang baru berumur empat tahun datang menghampirinya.
“Kakak Tya kok nangis?” kata Carina.
Tya segera menghapus air matanya lalu mengangkat adiknya ke kursi meja dapur disebelahnya.
“Enggak kok...aku gak nangis.”
“Aku juga mau keju.....” katanya lagi.
Tya pun mengambil pisau dan memotongkan keju untuk adiknya itu. Setelah memotongkan keju, ia melihat pisau itu lekat-lekat. Pisau dapur yang tajam yang biasanya dipakai oleh pembantunya. Namun sedetik kemudian ia melempar pisau itu jauh-jauh. Ia gemetar ketakutan.
“Astagfirullah Mbak Tya.....” pembantunya yang sedang lewat langsung kaget saat melihat sebuah pisau melayang. “Kenapa pisaunya dilempar?” tanya pembantunya lalu memungut pisau itu.
“Jjja-jauhin!! Jauhin pisaunya.” Tya histeris lalu berlari ke kamarnya.
Ia duduk ditempat tidurnya sambil memeluk kandang Koro.
“Koro.......kamu jangan pergi juga, ya....” kata Tya.

***

Rabu pagi. Tya datang pagi-pagi sekali untuk menghindari macet. Dua sahabatnya belum datang. Kelasnya juga masih sepi. Baru beberapa anak surga [1] yang duduk didepan saja yang sudah datang sepagi ini.
“Pagi...” Tya menyapa anak-anak surga itu dengar suara serak.
Ia melihat tempat duduknya Bintang. Masih kosong. Tapi memang akan tetap kosong selamanya. Ia pun menghampiri tempat duduk Bintang yang terletak di barisan ketiga dari pintu dan baris kedua dari belakang. Tya duduk disana. Memperhatikan meja Bintang yang penuh coret-coretan. Ada rumus ekonomi. Kebetan yang ditulis dimeja dengan spidol. Atau sekedar coret-coretan saja. Tapi ada sebuah tulisan yang membuat dada Tya sesak. Yaitu tulisan ‘Bintang sayang Tya’ yang tersembunyi dibalik coret-coretan itu.
Tya mulai menagis lagi. Sofie teman sebangkunya yang baru datang terkejut melihat Tya yang sedang menangis di meja Bintang. Sofie pun menghampiri Tya.
“Ya ampun, Ty.... lo kenapa?” tanya Sofie.
Tya segera mengahapus air matanya. “Gak apa-apa...” kata Tya lalu pergi keluar kelas.

***

Pulang Primagama, Tya mampir ketaman. Disana ada Miko sedang duduk dibangku taman seperti biasa. Beberapa anak kecil sedang main diperosotan dan beberapa lagi sedang main diayunan. Tya duduk disamping Miko yang sedang melihat awan sore yang berwarna kemerahan.
“Akhirnya gue tau. Apa keuntungan jadi orang kayak lo.” Kata Tya sambil menerawang kearah langit sore. “Orang kayak lo justru beruntung terlahir seperti ini. Karena dengan begitu. Lo gak pernah ngerasain yang namanya sedih.” Tya berusaha untuk tidak menangis.
Miko memang punya kelainan pada otaknya, tapi sepertinya otak Miko tahu kalau orang yang duduk disampingnya ini sedang bersedih. Miko pun memegang pundak Tya.
“Ja.....ngan.....na.......ngis.” kata Miko dengan ajaibnya.
Tya berusaha terlihat tertawa walaupun air matanya sudah keluar. “Siapa yang nangis. Gue lagi ketawa kok.” Kata Tya.
Dan dengan ajaibnya Miko mengahapus air mata Tya yang sedang mengalir.
“Ja.....ngan.....na.......ngis.” ulangnya dengan terbata-bata.
Tya menyedot ingusnya yang meler. “Iya.... gue emang harus terima ini. Gimana pun juga...Allah udah berkehendak. Gue gak bisa apa-apa.”
Miko tersenyum padanya. “Se....nyuuuuum.....”
Tya pun tersenyum haru pada Miko.

[1] Maksudnya anak-anak berotak pinter dan berakhlak mulia. *halah!*

bab 10

BAB 10




Minah, pembantu rumah Resty tiba-tiba masuk ke kamar sambil membawa seikat mawar putih.
“Itu kok dibawa kesini?” tanya Resty yang sedang sisiran, siap-siap mau berangkat kesekolah.
“Ini...memang punya Mbak Resty.”
Resty mengerutkan keningnya.
“Misi, Mbak....” Minah pamit pergi.
Resty mengamati ikatan mawar itu. Dan ditengah-tengahnya ada sebuah amplop dengan tulisan To : Resty. Resty pun membuka amplop itu.
‘Res...sekarang udah saatnya gue pergi. Hari ini gue berangkat ke Singapur jam setengah sembilan. Hhh...akhirnya gue akan mulai semuanya dari awal lagi. Sebagai orang normal. Oiya, jangan coba-coba nyusul gue ke bandara kayak adegan di film, ya. Hehehe.... sesuai janji gue, suatu saat nanti waktu gue balik ke Indo. Gue akan nebus lo dari temen lo itu. JANJI! Vino.!’
Resty tersenyum, “Dasar orang aneh.”
Ia pun segera mengambil kunci mobilnya dan pergi kesekolah.


Pagi itu, Gia dan Tya sedang duduk di kantin sekolah.
“Masih sedih?” tanya Gia.
“Masih, siiih...tapi gue gak mau mikirin itu lagi. Yang udah pergi, biarin pergi. Gitu, kan?”
Gia mengangguk.
“Gimana persiapan pamerannya?” tanya Tya.
“Beres... tinggal tunggu hari H-nya aja.” Kata Gia. “Pokoknya keren deh!”
Tidak lama kemudian Resty muncul lalu meletakkan sebuah amplop yang bertuliskan To : Resty dimeja kantin. Didepan teman-temannya.
“Apaan, nih?” tanya Gia.
“Baca aja.” Kata Resty lalu duduk dihadapan dua temannya sambil menyeruput es teh punya Tya.
“Jadi...hari ini dia pergi, Res?” tanya Tya setelah membaca isi amplop itu.
Resty mengangguk.
“Trus...lo udah ketemu sama dia?” tanya Gia.
“Belom. Dia perginya mendadak banget. Tadi pagi dia ngirimin kartu ini sama mawar putih.”
“Ya ampun, Res...lo harus cepet-cepet nyusul dia ke Bandara! Mumpung masih pagi...” Kata Tya.
“Tapi dia bilang, gue gak boleh nyusul dia ke sana.” Kata Resty.
“Trus....” kata Gia.
“Trus apanya?” tanya Resty.
“Trus lo mau duduk diem aja di kantin sekolah sementara orang yang jelas-jelas lo suka adri kelas satu SMA, dan dia jelas-jelas mau pergi hari ini juga, jelas-jelas gak tau kapan baliknya, dan jelas-jelas lo belom bilang kalo lo suka sama dia.” Kata Gia.
“Lo belom bilang ke Vino, kan, Res? Lo gak mau bernasib sama kayak gue kan Res? Ditinggalin orang yang lo suka trus lo belom bilang apa-apa sama dia.” kata Tya.
“Tapi..... kita, kan udah disekolah. Gimana caranya kita keluar? Didepan kan dijagain. Mana bisa kita keluar?” Kata Resty.
“Lo bawa mobil?” tanya Gia.
“Bawa...”
“Sip....” kata Gia. “Kita cabut.” Kata Gia lagi lalu menyanggahkan tas selempang hitamnya di pundaknya.
“Cabut!!!??? Lo gila?” kata Resty.
“Kadang gila itu menyenangkan, lho, Res.” Kata Tya lalu segera menggeret Resty.
“Lo tau jalannya, Gi?” tanya Tya.
“Tenang aja... anak-anak kelas gue tuh sering cabut. Mereka pernah ngasih tau jalannya.”
Mereka pun jalan ke bagian belakang sekolah. Lalu naik ke tempat sampah yang menempel pada dinding sekolah. Gia bersiul, entah memanggil siapa.
“Tas lo..” kata Gia pada dua temannya.
Tya dan Resty segera memberikan tas masing-masing. Gia pun melemparkan tas-tas mereka. Lalu dengan cepat mereka melompat keluar tembok.
Ternyata dibalik tembok sana sudah ada segerombolan preman yang memegangi tas-tas mereka. Gia memberi mereka limabelas ribu *harga satu tas lima ribu*.
“Makasih, ya...” kata Gia.
“Sip!!” kata salah satu preman itu. “Lain kali jangan sering cabut lo. Gue denger udah mau ujian. Nanti kalo gak lulus lo malah jadi kayak gue, lagi.”
“Iya...cuma sekali doang, kok. Ini darurat.” Kata Gia.
“Yaudah sana...ati-ati, ye..”
“Sip.” Kata Gia.
Preman yang baik hati. Mereka pun segera berlari ke parkiran sekolah. Gia melihat jam tangannya. Waktunya masih banyak, tapi ia takut kalau jalanan macet.
“Ayo cepet, Res. Kalo perlu kita ngebut.” Kata Gia.


Pukul 7:51 waktu bandara. Setelah berhasil sampai di cengakreng, mereka pun segera berpencar mencari Vino. Namun usaha mereka sia-sia. Tidak satu pun dari mereka yang melihat Vino.
“Tuh...kan...” kata Resty. “Gak ada, kan. Sia-sia, kan?”
“Aduh.... lo jangan nyerah gitu dong.” Kata Tya.
Tiba-tiba handphone Resty berbunyi. Dilayarnya muncul nama ‘Orang aneh’.
“Vi....Vino!! Ini telpon dari Vino.” Kata Resty dengan panik sambil celingkan.
“Cepet angkat.” Kata Tya.
“Hallo....” kata Resty menjawab telpon Vino.
“Kan udah gue bilang jangan nyusul.”
“Lo dimana?”
“Res...sori tapi gue udah mau berangkat.”
“Tunggu..tunggu! Jangan ditutup dulu.”
Vino diam saja.
“Gue cuma pengen bilang....kalo gue udah dari kelas satu suka sama lo. Dan lo gak perlu nebus gue dari siapa-siapa, karena gue bakal nunggu lo...” Resty menangis.
“Eeeeh...kenapa jadi cengeng gitu, sih?” kata Vino. “Yaudah, ya... gue berangkat dulu.”
“Makasih bunganya...”
“Hm...daaah..”
“Dah.”
Dari kejauhan didalam sebuah restoran airport, Vino melihat Resty pergi meninggalkan bandara bersama dua orang sahabatnya.
“Kayaknya...kali ini lo gak salah pilih orang.” Kata Mita, kakak perempuannya yang sedang duduk disampingnya. Vino memang sering cerita ke kakaknya tentang cewek-ceweknya. “Emang, sih... dia gak secantik...siapa nama cewek lo?” kakaknya berusaha mengingat. “Manda.” Akhirnya ia ingat sendiri. “Tapi yang ini manis juga. Dan keliatannya dia cewek baik-baik.”
“Itu yang ngebuat gue suka sama dia.”
“Karena dia manis?”
“Bukan.” Katanya. “Karena dia gak macem-macem, sederhana, dan apa adanya. Gak ada satu pun di dirinya dia yang dibuat-buat. Alami.”
Mita tersenyum, “Sejak kapan lo suka sama cewek alami?” Mita menekankan kata ‘alami’.
“Dia yang pertama.” Jawab Vino datar.
“Trus kenapa lo tinggalin?”
“Justru karena demi dia gue pergi untuk berubah.” Kata Vino. “Tapi gue bakal sesekali dateng kesini buat ngeliat dia.”
“Ternyata adek gue punya sisi bijak juga.”
Vino hanya tersenyum.
“Lo yakin gak mau nemuin dia dulu? Gue yakin dia masih diparkiran.”
Vino menggeleng. “Lo gak mau kan ngeliat adek lo yang ganteng ini nangis didepan cewek, kan?”
Mita tersenyum, “Dasar..” katanya. “Ayo cepetan. Sebentar lagi pesawatnya berangkat.”

***

Hari ini hari jumat. Seperti biasa Tya harus datang ke kantor. Namun hari ini tidak ada pelajaran apa-apa. Tya harus menemui kakeknya.
Tya berjalan sepanjang lorong sepi yang menuju ruangan kakeknya dengan enggan. Setelah sampai didepan pintu ruangan kakeknya, ia menarik nafas lalu mengetuk pintu ruangan kakeknya. Ia mendengarsuara didalam mengatakan ‘Masuk!’. Ia pun masuk lalu duduk dihadapan kakeknya yang sedang menandatangni sesuatu. Rani, sekretaris kakeknya berdiri disamping kakeknya menunggu kertas yang sedang ditandatangani itu.
“Kalau ada tamu, bilang saja saya sedang ada rapat.” Kata kakeknya pada Rani seraya memberikan sebuah map padanya.
“Baik, Pak...” kata Rani lalu pergi.
“Bagaimana keadaan orang itu?” tanya kakeknya.
“Dia....udah meninggal.”
Kakeknya mencibir, “Anak muda yang sia-sia. Kenapa kamu bisa kenal dengan orang yang seperti itu, hah? Sok jagoan.”
Tya hanya tertunduk.


Setelah pulang kerumah dan ganti baju, Gia dan Resty pergi ke studionya Opank.
“Hhhh....gak sabar nunggu minggu depan.” Kata Gia yang sedang berdiri beranda sambil menggenggam kamera kesayangannya.
“Sebenernya...tujuan ngebuat pameran ini apa, sih, Gi?” tanya Resty yang sedang duduk disofa dalam.
“Promosi sekalian launching gitu, deh.” Kata Resty. “Rencananya Opank tuh mau buat studio foto yang eksklusif gitu deh. Jadi dia ngebuat pameran ini untuk nunjukin ke orang-orang hasil fotonya dia.”
“Loh...kok elo, Bram, sama Indra pake ikutan segala?”
“Iya...emang kita timnya.”
“Tim?”
Gia mengangguk lalu duduk disebelah Resty. “Jadi nanti tuh...Opank gak mau buka studio foto yang cuma gitu-gitu aja. Dia maunya tuh bikin studio foto yang ada hunting sama klien-nya juga.”
“Jadi nanti yang mau foto diajak hunting gitu?”
“Sip!” kata Gia.
“Kayak model beneran dong.”
“Iya..makanya itu kelebihan foto studio kita. Eksklusif. Makanya, nanti stiap klien kita bakal dapet foto yang gak sama setiap kliennya.” Kata Gia.
“Jadi intinya cuma promosi sama launching aja?” tanya Resty lagi.
“Ya....pamer juga siiiiih.” kata Gia. “Namanya juga pameran. Soalnya nanti banyak juga fotografer yang dateng. Ya... lo tau, kan Opank banyak banget temennya.”
“Tapi nanti apa gak susah bagi waktunya? Secara lo nanti pasti bakalan sbuk kuliah. Bram juga,kan udah kontrak kerja. Opank banyak banget urusannya. Masak cuma Indra yang kerja?”
“Ya bagi-bagi lah, Res.”
“Kenapa gak dari dulu aja Si Opank buat kayak ginian?” tanya Resty.
“Tau, tuh... secara modal udah ada. Skill apa lagi.tapi kenapa baru sekarang kepikiran, ya?”
“Nungguin lo lulus dulu kali. Biar bisa joinan sama lo.” Kata Resty.
“Apaan, siiiiiiiiih........”


Tya baru saja keluar dari ruangan kakeknya. Pembicaraan berat tentang masa depan perushaan membuatnya sedikit pusing. Saat ia di lift, bukannya menekan lantai yang seharusnya ia tuju, ia malah menekan lantai paling atas. Setelah keluar dari lift, ia naik lagi lewat tangga darurat menuju atap gedung.
Dari sana ia dapat melihat kota Jakarta yang sangat padat. Ia merasa tenang disana. Menenangkan diri adalah hal yang paling ia butuhkan setelah kematian Bintang. Suasananya seperti diatap Primagama, namun hembusan angin yang kencang mengingatkan ia pada padang ilalang. Ia pun membuka mulutnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“Lagi ngapain?” tanya suara dibelakang sana.
Tya membalikkan badannya, “Bram?”
Bram tersenyum.
“Kok bisa tau gue ada disini?”
“Gue bukannya ngikutin lo. Tapi gue juga sering kesini kalo lagi gak ada kerjaan.” Kata Bram lalu berdiri didekat Tya.
“Ooooh....” Tya menatap gedung-gedung bertingkat dan pemukiman padat. “Kok muka lo kusut banget, sih?”
“Hehehe....iya, nih. Gue belom pulang dari kemaren. Abis lembur.”
“Pantes...”
“Waktu itu gue ngeliat lo lagi lari-lari sama Putra. Emangnya ada apaan? Kayaknya buru-buru banget.”
“Oooh...itu.” kata Tya. “Lo mau cerita singkatnya atau cerita panjangnya?”
“Cerita panjang.” jawab Bram tanpa pikir-pikir. “Gue lagi gak ada kerjaan kok. Sebenernya sepupu lo itu nyuruh gue pulang untuk istirahat abis lembur kemaren.”
Tya pun duduk selonjoran di lantai roof, begitu juga dengan Bram. Lalu Tya mulai bercerita tentang Bintang.

bab 11

BAB 11




Satu minggu kemudian. Sabtu pagi pukul 7:38. Setengah jam lagi pameran dibuka. Diluar, Tya sedang memasang sebuah spanduk yang bertajuk ‘The Art Of Photography Exhibition by ILALANG Studio’ didepan gedung pameran dibantu oleh Bram. Gia sedang meletakkan rangkaian bunga keseluruh ruangan. Sedangkan Resty sedang membuka pembungkus grand piano yang akan dipakai untuk live performance. Indra dan Opank sibuk berkeliling keseluruh ruangan untuk memastikan semua foto dan dekorasi terpasang dengan benar demi terlaksananya pameran ini.
Tiba-tiba ada yang duduk di grand piano sewaktu Resty sedang mengelap grand piano itu. Orang yang tingginya mungkin satu setengah kalinya Resty, kurus, rambutnya dipotong model indis tapi sepertinya sudah agak gondrong, memakai kacamata, dan bajunya hitam garis-garis. Ia membuka tutup tuts piano lalu meminkan do re mi fa sol la si do dari oktaf yang terendah sampai oktaf yang tertinggi lalu ia memainkan sebaliknya.
Ini, kan Rivo. Jadi dia yang main piano? Tapi Gia mana?
Resty pun menjauh dari piano lalu mangambil walkie talkie dari kantongnya.
“Gi..Gi...ini Resty. Lo dimana? Rivo udah dateng, tuh. Dia ada di piano.”
“Sip. Thank’s, ya.”
Setelah itu Resty pergi untuk menggantikan tugas Gia meletakkan bunga-bunga.
Saat Gia datang, lagu yang ia kenal berjudul Song From Secret Garden tengah mengalun dari grand piano berwarna hitam yang diletakkan di ruang utama tempat pameran. Dengan perlahan Gia memasuki ruangan yang hanya dibatasi dua pilar berbentuk kubah dengan ruangan lainnya. Gia mendengarkan lagu yang masih terdengar sendu itu dengan khidmad. Ia jatuh cinta dengan lagu ini. Tapi sepertinya begitu juga dengan pemainnya.
Tiba-tiba permainnanya berhenti. Rivo mengdongak dari pianonya.
“Kenapa cuma berdiri aja?” katanya.
“Ha?” Gia kaget.
“Gak mau nyoba mainin?” tanya Rivo lagi.
Gia menggerakkan kedua tangannya, “Gak, ah....gue gak bisa. Elo aja.”
Indra datang sambil menepuk-nepukan kan tangannya tanda menyuruh orang untuk segera bersiap-siap karena pameran akan dibuka. “Ayo semuanya.... kita ke pintu depan.” Katanya lalu menuju ruangan lain.
Semua kru berdiri didepan pintu untuk menyambut para tamu yang sudah datang. Setelah pengunjung masuk, mereka pun dikumpulkan diruang utama.
Setelah semua pengunjung berkumpul diruangan utama, Rivo pun mulai mendentingkan pianonya. Ia memainkan lagu favoritnya, ‘Song From Secret Garden’ yang berdurasi 3 menit lebih.
“Dengan ini, ILALANG photo studio resmi dibuka.” Kata Opank sambil mengangkat gelasnya diikuti para kru dan semua pengunjung yang juga diberi minuman.
Setelah peresmian, para pengunjung pun diperbolehkan melihat foto-foto yang telah dipajang.
Rivo juga ikut berkeliling melihat foto-foto. Saat ia memasuki sebuah ruangan, bebrapa pengunjung sedang memuji sebuah foto yang lumayan besar. Ia mendekat untuk melihat foto yang sedang dipuji itu. Ternyata itu adalah foto dirinya yang sedang berada di padang ilalang. Dia sedang berdiri diantar ilalang-ilalang yang tinggi. Rivo melihat judul foto itu yang tertera disamping foto itu ‘Secret Garden by Gia’. Ia tersenyum lalu kembali melihat foto yang tingginya sama dengannya itu.
Gia berdiri di luar ruangan dan tersenyum melihat Rivo sedang melihat foto itu lalu menghampirinya.
“Gimana?” tanya Gia.
“Mereka bilang teknik yang lo pake bagus.” Kata Rivo.
“Gue juga denger beberapa orang bilang kalo modelnya ganteng.” Gia tidak mau kalah.
Rivo tersenyum. “Foto ini nanti boleh buat gue, gak?”
Gia mengangguk. “Emangnya mau buat apa?”
“Buat ngegantiin kaca dirumah yang gue pecahin.” Kata Rivo.
Gia tertawa.
“Tapi kok gue masih ngerasa mata gue sayu, ya? Dan muka gue keliatan jelek banget.”
“Rivoooo....jangan mulai deh.” kata Gia. “Liat-liat yang lain, yuk.” Gia pun menggeret Rivo menuju ruangan berikutnya.


Sementara itu, Tya sedang melihat sebuah foto yang membuatnya merinding. Foto tragedi tawuran yang melibatkan Bintang. Tapi kali ini ia tidak mau menangis. Ia berusaha untuk tegar.
“Sampe kapan lo mau mandangin tuh foto?” tanya Resty yang datang membawakan Tya segelas fruit punch.
“Makasih.” Tya menerima gelasnya.
“Res...” panggil Indra dari walkie talkie.
“Ya, Ndra.” Jawab Resty.
“Lo bisa ke ruang tiga gak? Ada foto yang belom ada description-nya, nih.”
“Oh, ok... gue kesana sekarang.” kata Resty. “Ty, bentar, ya...”
Tya hanya mengangguk sambil terus memandangi foto itu. Tidak lama kemudian seseorang berdiri disebelahnya. Dia juga mengamati foto itu.
“Jadi ini peristiwa itu?” tanya orang disebelah Tya.
Tya menoleh. Ternyata itu Bram. “Mm-hm...” angguknya.
“Masih nyesel karena dia pergi?” tanya Bram lagi.
“Hm..” angguk Tya lagi. “Terlalu cepet.”
“Kadang kita emang gak bisa duga...”
Tya mengangguk lagi.


Resty menuliskan deskripsi untuk sebuah foto di selembar kertas seukuran kartu nama lalu menaruhnya di sebuah kotak kecil disebelah foto itu yang disiapkan untuk menaruh kertas deskripsi. Saat ia sedang berjalan keluar ruangan, sekilas ia melihat ada seseorang yang mirip dengan Vino. Namun karena orang itu memakai topi, jadi ia tidak dapat melihat jelas orang itu. Saat Resty ingin mengejar, orang itu sudah keburu pergi dan membaur ditengah para pengunjung. Dan tidak lama kemudian Opank memanggilnya.
“Res...bisa ikut gue sebentar, gak?”
Resty pun berjalan mengikuti Opank dengan segudang rasa penasaran. Tapi sisi lain dirinya mengatakan, ‘Bukan...itu bukan Vino. Lo pasti salah liat. Secara dia udah di singapur’. Tapi ia hapal betul dengan sosok Vino. Bahkan kalau ia melihat Vino dikejauhan, ia pasti langsung bisa mengenali.
Tapi akhirnya ia memutuskan untuk melupakan pikirannya itu dan berkonsentrasi pada pameran.

***

Malam harinya, acara launching sudah selesai. Pengunjung teakhir juga sudah keluar sejak lima belas menit yang lalu. Setelah beres-beres, semua kru pulang meninggalkan lokasi pameran.
“Gimana kalo kita makan-makan dulu?” ajak Opank. “Gue yang traktir deh. Pada laper, kan?”
Semuanya pun setuju. Mereka berjalan ke sebuah restoran Jepang yang tidak jauh dari situ.
“Gak nyangka....pamerannya sukses berat!!” kata Resty sambil membakar udang di panggangan yang terletak ditengah-tengah meja.
“Iya...ternyata banyak juga, ya yang dateng....” tambah Tya.
“Opaaaaank....” Opank membanggakan dirinya.
Semuanya pun bersenang-senang menikmati keberhasilan mereka, bahkan malam ini Gia melihat Rivo tertawa. Walaupun itu cuma senyum kecil saja.
“Hhhhh.....kenyaaaaang.....” kata Indra sambil memukul-mukul pelan perutnya.
“Nyebrang yuk.” Kata Gia yang sudah turun ke jalan tanpa melihat kanan-kiri. Ia pikir karena sudah larut malam, jadi jalanan sudah sepi. Lagi pula dari tadi ia tidak melihat satu mobil pun yang lewat.
Tiba-tiba Rivo mendorongnya ke sebrang. Dan begitu ia menoleh, Rivo tengah tergeletak di tengah jalan dan berlumuran darah. Sepertinya sebuah mobil baru saja menabraknya. Orang yang didalam mobil itu turun untuk melihat keadaan Rivo. Sedangkan Gia hanya diam terpaku di trotoar. Ia tidak bisa bergerak. Ia benar-benar tidak menyangka akan kejadian ini.

***

Hujan turun rintik-rintik saat pemakaman Rivo. Seluruh keluarga Rivo sedang menangisi kepergian Rivo yang begitu cepat dan tiba-tiba. Mereka terlihat menyesal karena telah memperlakukan Rivo dengan sangat tidak adil sewaktu ia hidup.
Tapi Gia hanya diam saja. Ia tidak menangis seperti Tya. Ia terlihat tegar, tetapi sebenarnya dalam hatinya ia sungguh menyesal.
“Ini...semua gara-gara gue.” kata Gia.
Resty memeluk Gia. “Enggak, Gi... ini emang udah takdirnya dia untuk pergi.”
Gia cuma diam saja.
“Lo harusnya seneng, Gi.” kata Tya.
Gia menatap Tya dengan heran. Temen gue yang satu ini bener-bener gak waras. Batinnya.
“Ada yang bilang. Orang baik itu lebih cepet meninggal dari pada orang jahat.” Tya melanjutkan kata-katanya.
Kali ini Gia tersenyum walaupun masih ada sedikit penyesalan dihatinya.

***

Satu minggu kemudian.
Gia terbangun dari sofa studio di sabtu pagi yang dingin. Setelah launching waktu itu. Banyak sekali yang ingin difoto oleh ILALANG Studio. Karena kemarin ia bekerja hingga malam, ia pun memutuskan untuk menginap distudio. Lagi pula ini hari sabtu.
Setelah ngulet-ngulet beberapa saat, Gia berganti kostum olah raga lalu berlari pagi di padang ilalang. Udara pagi disekitar situ memang enak. Pantas saja Opank sering lari pagi kesini.
“Neng...”
Gia mendengar seseorang berteriak memanggilnya. Saat ia menoleh kebelakang, Pak Parmin sedang berlari kearahnya.
“Neng..ini.” katanya saat berhasil sampai didepan Gia lalu memberikan sebuah buku berwarna hitam dan ada tulisan ‘My Secret Garden’ dengan tinta emas.
“Ini apa, Pak?” tanya Gia saat menerima buku itu.
“Ini....diarynya Mas Rivo.”
“Ke-kenapa dikasih ke saya.”
“Tadi sewaktu saya sedang membereskan kamar Mas Rivo, saya menemukan ini.” Katanya. “Ini buat Neng saja. Tidak perlu dikembalikan, toh Mas Rivonya juga sudah tidak ada.”
Gia menatap buku hitam itu.
“Oiya, Neng...ini satu lagi.” Pak Parmin memberikan sebuah kanvas yang lumayan besar padanya.
Gia melihat lukisan di kanvas itu.
“I-ini kan....” Gia kaget. Orang yang berada di lukisan itu mirip sekali dengannya. Tapi sepertinya memang dia. Lukisan Gia yang sedang duduk di beranda studio.
“Itu memang Neng.” Kata Pak Parmin. “Mas Rivo sampe bela-belain beli teropong cuma buat ngelukis Neng.”
“Jadi waktu ngelukis ini, Rivo ngeliat aku dari teropong?”
Pak Parmin mengangguk.
“Permisi, ya, neng...saya masih harus beres-beres.”
“I-iya...makasih, ya, Pak.”
Pak Parmin pun pergi. Gia pun memutuskan untuk duduk di dermaga dan membaca buku itu. Ia menyandarkan lukisan itu di tiang dermaga lalu mulai membuka lembaran pertama diary-nya Rivo.

Hari ini....diasingkan...
Hhhh.....kenapa hidupku harus begini, Tuhan?
Apakah suatu hari nanti akan ada seseorang yang akan mengerti aku?
Yang terlihat dari sini hanyalah hamparan padang ilalang.

Gia melewatkan halaman berikutnya, berikutnya, dan berikutnya. Ia membuka lembaran tengah.

Hari ini...aku berniat bunuh diri.
Danau itu menjadi pilihanku....
Tapi seseorang menyelamatkanku.
Dia lagi....
Kenapa dia harus datang lagi?
Kenapa dia tidak membiarkan aku mati saja?

Beberapa lembar selanjutnya.

Dia...memang terlihat sedikit ambisius...
Tapi manis juga...
Perempuan yang tegar..
Tapi memiliki sisi sensitif....
Aaaahhh....apa mungkin aku suka padanya?

Gia tersenyum lalu membaca lembaran selanjutnya... selanjutnya.... selanjutnya...... dan akhirnya ia sampai dilembaran akhir.

Pagi ini...karena dia...aku akan memulai hidupku lewat sebuah dentingan piano.
Aku tidak akan pernah menyangka kalau hobiku ini akan sangat dihargai orang....
Aku tidak akan merasa terbuang lagi.
Dia yang membuatku seperti itu....
Akhirnya...mungkin memang harus aku katakan hari ini....
Ya..sudah kupuskan...
Hari ini juga aku a kan mengatakan padanya...
Pada Gia......
Tentang perasaan ini....
Sesungguhnya.

Gia melihat tanggal yang tertera diatas. Tanggal yang sama saat Rivo tertabrak. Ini pasti ditulis pagi hari sebelum dia dateng ke pameran. Batin Gia. Tapi...sebenernya....apa yang mau dia bilang ke gue?
“Lagi ngapain, Gi?”
“Eh, Opank....”
“Ini...siapa yang ngelukis?”
“Rivo....”
Opank mengamati lukisan itu.
“Keliatannya..dia jago banget ngelukis. Lukisannya rapi.”
Gia tersenyum, “Keliatannya begitu.”
“Sayang, ya...dia cepet banget perginya....”
Gia mengagguk lalu memandang jauh kearah danau, “Terlalu cepet pergi....terlambat untuk......”
“Untuk apa?”
“E-enggak....”

Epilog

EPILOG




Sore hari yang teduh. Langit berwarna jingga kemerahan, awan bergulung-gulung dengan indah, dan angin bertiup menggoyangkan ilalang-ilalang yang terlihat seperti tarian indah padang ilalang. Resty dan Gia sedang duduk di antara ilalang-ilalang sambil memangdang kearah danau sore.
Handphone Resty berbunyi. Dari nomer yang depannya +65.
“Gi...kenal nomer ini, gak? Kok kayaknya aneh, ya?” tanya Resty pada Gia.
“+65 itu kan kodenya Singapur, Res....” kata Gia.
Lalu mereka berdua bertatapan.
“VINO!!!!” kata mereka berdua bersamaan.
Resty pun mengangkat telpon itu.
“Ha-halo.....”
“Hi, Res... ini gue.”
“Vino...”
“Sekarang udah sukses, ya?”
“Ah...enggak juga.”
“Waktu itu gue liat lo jadi EO pameran foto.”
“Jadi yang pake topi waktu itu beneran elo, ya?”
Vino terdengar tertawa kecil disebrang sana.
“Jahat!! Kenapa gak nyamperin gue, sih?”
“Gue cuma pengen bilang kalo gue udah mulai hidup baru gue. Makasih lo udah nyadarin gue.”
“Tapi.....”
“Udah..ya, Res....nanti gue telpon lagi.”
Vino mematikan sambungan telponnya.
“Halloo....hallo..!!!”
“Kenapa, Res?” tanya Gia.
“Diamatiin, Gi.”
“Yaudah...nanti juga ditelpon lagi.” kata Gia.
Suasana hening lagi. mereka kembali memandang kearah danau lagi. Tidak ada pembicaraan sama sekali.
“Ngomong-ngomong si Tya mana, sih?” tanya Resty sambil melihat jam tangannya.
“Taaauuuu.....” Gia mengangkat bahunya.
“EEEEEEEIIIIIIIIIIIIYYYYYYY...........” suara Tya terdengar dari kejauhan. Ia sedang mengendarai mobil golf.
“Nah tuh dia....” kata Resty.
“Panjang umur banget tuh anak.” Kata Gia.
“Sori...sori...telat....” kata Tya sambil memarkirkan mobilnya.
“Kemana aja lo?” tanya Resty.
Tya mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Niiiiiihhh......gue punya sesuatu buat lo berdua.” Katanya lalu memberikan sebuah buku pada mereka.
“Apaan, nih?” tanya Gia.
“Novel...” jawab Tya singkat. “Tadi tuuuh...gue ngambil ini dulu. Blom ada yang punya niiih...baru dicetak tiga kopi. Eksklusif, kaaaaan.....?? mudah-mudahan aja bisa terbit beneran.”
Resty dan Gia memangdangi cover buku itu yang penuh dengan gambar ilalang. Di cover depan ada foto mereka bertiga sedang melompat dan diambil dari arah belakang. Dan cover belakangnya foto mereka sedang naik sepeda dan ada sinopsisnya yang isinya begini :

Tiga cewek yang terdampar dikota yang gak pernah tidur a.k.a Jakarta raya. Tiga cewek dengan dunia yang berbeda, namun mereka dalam satu visi dan misi. Tiga cewek yang keliatannya pinter, padahal otak mereka cuma setengah sendok teh. Tiga cewek yang keliatannya normal, padahal enggak. Tiga cewek yang secara gak sengaja dipertemukan oleh takdir.
Meskipun mereka memiliki sifat dan karakter yang berbeda satu sama lain, tapi justru perbedaan itulah yang menyatukan mereka. Mereka saling mengisi satu sama lain. Apalagi kalo isiannya coklat sama stroberi. Beneran!! Kalo disuruh milih sesuatu, mereka pasti milih sesuatu yang coklat atau stroberi. Nah, lho... bingung kan lo?

“Ini kan foto yang waktu itu.” Kata Resty.
Tya mengangguk.
“Jadi waktu itu lo minta satu buat ginian?”
Tya mengangguk lagi lalu duduk disamping Resty. “Itu kenang-kenangan dari gue.” kata Tya. “Jangan lupa dibaca.”
“Pastiiii......” kata Resty.
“Pokoknya nanti pas lo baca ceritanya bakalan kaget, deh. diambil dari kisah nyata.” kata Tya lagi.
“Kisah apaan?” tanya Gia.
“Baca aja duluuu....nanti juga tau.”
“Jangan-jangan Si Pitung, lagi?” kata Resty.
“Ya bukan laaaaah.... plis deh.” kata Tya.
Lalu Gia mengeluarkan sebuah buku hitam. Diary-nya Rivo.
“Kalo ini....lo bisa jelasin gak maksud dari kata ‘Secret Garden’?” tanya Gia.
“Emang ini apaan?” tanya Resty.
“Diary-nya Rivo.”
“Kok lo bisa dapet?” tanya Resty lagi.
“Dari penjaga rumahnya.” Jawab Gia. “Jadi ada yang tau gak artinya?”
“Ya...udah jelaskan maksudnya? Masak lo gak ngerti filosofinya?” kata Tya.
Gia menggeleng.
“Maksudnya tuh....diary ini Secret Gardennya dia.” Kata Tya. “Tapi bisa juga yang dimaksud Secret Garden itu isi hatinya. Yaaa....pokoknya diantara dua itu lah...”
Gia pun mengangguk-angguk. Jadi itu maksudnya. Pantes waktu itu dia bilang kalo artinya ambigu.
Suasana hening lagi.
Angin semilir-semilir.
Padang ilalang bergoyang.
“Oiya!!” kata Resty tiba-tiba. “Lo inget gak, Ty...kata-kata pertama lo waktu ketemu Gia di kelas dua?”
“Ooooh...itu.” Tya mengingat-ingat kata-katanya sendiri waktu itu. “Yang bahasa jepang itu, kan?”
“Iya..iya...waktu itu lo ngomong apa, sih?” tanya Resty lagi.
“Dokuritzu Zunbi Choosakai.” Kata Tya dengan logat Jepang yang dibuat-buat.
“Itu Artinya apa?” tanya Resty lagi.
“Iya....itu artinya apaan, sih, Ty? Gue aja yang dari Jepang belom pernah denger kata-kata itu.”
Tya ketawa sendiri. “Itu, kan artinya BPUPKI [1].”
“Ya-am-puuun, Ty..... kirain artinya apaan.” Kata Gia lalu tertawa. Begitu juga Resty.
“Dasar hodob [2].” Kata Resty.
“Oiya..oiya.... waktu itu inget, gak, Gi? Lo disuruh gambar segitiga sama kaki sama Bu Eva waktu pelajaran Matematika?” kata Tya lalu tertawa.
Kemudian Gia juga tertawa. “Iya...inget.”
“Emangnya kenapa, sih?” tanya Resty.
Tya berusaha untuk meredakan tawanya. Begitu juga Gia.
“Lo tau, gak? Dia malah gambar segitiga sama kaki. Kaki beneran maksudnya, Res....” kata Tya. “Jadi dia gambar satu segitiga. Sama satu kaki.”
Resty pun ikutan ketawa sekarang. “Kok lo bisa sebego itu, sih, Gi?”
“Ya...lo tau, kan, Res.... kadang otak gue suka konslet gitu? Waktu itu, tuh gue lagi bengong.... trus disuruh maju kedepan. Disuruh ngitung sudut siku-sikunya si segitiga sama kaki, tapi disuruh gambar dulu segitiganya. Yaudah...karena lagi bego... jadinya gitu deh...”
“Trus...trus....Bu Eva-nya gimana?” tanya Resty lagi.
“Kalo gue liat, sih sebenernya dia pengen ketawa, tuuuuh...... Tapi akhirnya dia malah nyuruh Gia berdiri di depan sampe bel.” Kata Tya.
Mereka pun tertawa.
“Inget gak waktu pelajaran bahasa inggris di Primagama? Yang waktu kita disuruh buat kalimat.” Kata Gia.
“Iya..iya... yang Resty buat kalimat ‘Ayah Rindu Perang’ dibahasa inggrisin jadi ‘Dedi Miswar’[3].” Kata Tya.
Mereka tertawa lagi. Tertawa mengenang masa-masa mereka dahulu. Menertawai otak mereka yang cuma setengah sendok teh. Menertawai kebodohan mereka. Kebodohan yang indah.
“Eh...gerah gak, sih lo berdua?” tanya Resty sambil mengipas-ngipas kaosnya.
“Mm-hm..” Tya mengangguk setuju.
Kemudian, Resty dan Tya seperti mempunyai benang merah. Mereka sepertinya dalam satu pikiran. Gia yang baru nyambung menyadari maksud dari dua temannya langsung mencegah.
“Tunggu...tunggu...jangan bilang......”
Belum sempat Gia meneruskan kata-katanya, kedua temannya itu sudah berdiri lalu menggotong Gia dan menyeburkannya ke danau. Setelah itu mereka juga menyusul nyebur ke danau yang berwarna kemerahan akibat biasan sinar matahari.
Tertawa diantara cipratan air danau dan disaksikan ilalang yang menari-nari diterpa angin. Tawa bodoh dari tiga dunia yang berbeda, namun pecah menjadi satu.





-TAMAT-


[1] Badan Penyelenggara Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
[2] Maksudnya Bodoh. *tulisannya dibalik*
[3] Ayah : Daddy *baca=dedi*; Rindu : Miss; Perang : War